Macau, The Island of Light [and Casino] Selasa, 4 Maret 2008
Dongguan, China [day 1] Sabtu, 22 Desember 2007
Liburan ini saya berkesempatan untuk sedikit berjalan-jalan ke China. Sejak kemarin, saya sudah terdampar di sini, di Dongguan China. Kenapa saya bilang terdampar? Hmm… ada sedikit cerita di dalamnya.
Tanggal 21, sehari setelah Idul Adha, saya berangkat ke Dongguan. Perjalanan dengan Catchai Pacific dari Jakarta menuju Hongkong, sebelum ke Dongguan alhamdulillah lancar walaupun di sekitar Kalimantan ada sedikit guncangan2 yang saya hadapi dengan makan. Maklum aja waktu itu laper banget.
Berangkat dari Jakarta jam 9.15. Dalam 4 jam saja, pangerankucing sudah mendarat di Hongkong. Sampai di sana, ada sedikit masalah karena di pabean Hongkong ternyata tidak boleh membawa rokok lebih dari 60 batang. Saya yang membawa 7 bungkus Sampoena Mild dan 3 bungkus Marlborro terpaksa membagi2kannya kepada teman2 supaya bisa lolos. Alhamdulillah lolos.
Dari Hongkong kami harus ke China daratan dengan minifan. Perjalanan sedikit terganggu karena [lagi-lagi] entah kenapa kami terpaksa diberhentikan oleh pabean sana untuk pengecekan isi mobil dengan x rays karena kami membawa 6 golf bag. Hmmm… rese! Setelah menunggu sekitar 15 menit, perjalanan diteruskan.
Nah, saat masuk gerbang China, kami harus membawa semua bawaan sendiri [kecuali golf bag - thx GOD] melewati [lagi2 x rays]. Ada teman saya yang terpaksa bongkar tas karena mereka tidak bisa mengenali bola golf. Jaman begini ada yang nggak tau bola golf? Ndesoo… wong Chino iki!
Lolos dari pabean [ untuk kesekian kali] akhirnya kami diantar sampai Sheraton Dongguan. Sampai di sana sudah jam setengah 7 an [China 1 jam lebih maju dari Jakarta]. Kami makan malam sampe bener2 begah. Walaupun makanhya banyak banget, cuma habis sekitar 600 ribu untuk 7 orang. Padahal kami makan di restoran China di Hotel Sheraton dengan VIP Room. Murah kan?
Setelah itu, kami akhirnya memutuskan untuk istirahat karena perjalanan cukup melelahkan.
Nanti saya tulis gimana hari ke 2 nya.
Cerpen: Teman Masa Kecil Rabu, 7 November 2007
”Temen lo mana, Der?” Aku mulai kesal. Ice capuccino di depanku sudah tandas, sementara orang yang kami tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya.
Deri melirik jam tangannya sekilas. “Sebentar lagi pasti sampe. Jangan takut!”
”Kok yakin gitu lo?” Aku ikut melirik jam tanganku. Sudah hampir satu jam kami menunggu.
”Kalo tentang Deni, gue sih nggak akan pernah salah.”
”Berarti elo tau kalo dia bakal telat satu jam?” Aku menatap Deri, berharap tebakanku salah.
”Yupe!” Deri menjawab tanpa rasa bersalah.
”Sialan lo! Tau gitu kan gue bisa pulang dulu ganti baju.” Aku mencium kaos basket yang masih menempel di tubuhku. “Mana bau keringet lagi.”
”Yaelah, Di. Temen gue juga cowok. Ngapain juga pake rapi-rapi.” Deri menyeruput juice melonnya hingga tandas.
”Gue nggak perduli sama temen lo, Der. Masalahnya ini Bandung Super Mall nih. BSM. Kan gue nggak bisa ngeceng kalo bau gini.”
”Ah, tujuan kita ke sini kan bukan mau ngeceng. Lagian sabar aja, bentar lagi juga Deni dateng.” Deri kemudian memperhatikan jarum panjang jam tangannya. “Liat ke arah pintu masuk deh! Dia bakal muncul dalam detik ke 5.. 4.. 3.. 2.. 1.. 0!”
Tepat pada saat Deri menyebut angka nol, seorang pemuda muncul dari balik pintu masuk.
”Bener kan kata gue. Tuh si Deni dateng.”
Aku menatap Deri dan Deni bergantian dengan tidak percaya.
“Hei, Gila! Udah lama nunggunya?” Deni menyapa Deri sambil meninju lengan atasnya.
“Seperti biasa, satu jam tepat. Nggak lebih, nggak kurang satu detikpun.”
”Hahaha! Masih aja on time. Udah tau gue bakal telat juga!”
”Elo yang harus perbaikin kebiasaan ngaretlo itu. Bukan gue yang harus nyesuain elo!” Kini giliran Deri yang meninju lengan atas Deni. “Gara-gara elo, si Andi nunggu kelamaan. Oh iya, kenalin nih, Andi temen gue!” Deri akhirnya mengenalkan aku kepada Deni. Kami berdua bersalaman dan saling menyebutkan nama masing-masing.
Setelah kami semua duduk, aku yang sudah lama menyimpan rasa penasaran tentang mereka berdua, langsung angkat bicara, “Elo berdua udah lama ya temenannya?”
”Hmmm lumayan deh. Sepanjang gue bisa inget, gue udah temenan sama dia,” jawab Deri.
”Iya, pokoknya segala sesuatu yang bisa gue inget dari masa kecil gue, pasti ada si Deri,” Deni menambahkan.
Aku terperangah. “Berarti elo berdua udah temenan sebelum elo bisa mengingat?” Aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal. “Berarti dari umur berapa ya?”
”Kata nyokap gue sih, kita temenan dari umur dua tahunan,” Deri menjawab kembali.
”Pantes aja elo tau kalo Deni bakal ngaret satu jam, sampe detiknya juga.”
”Jangankan itu, si Deri sih tau semuanya tentang gue. Istilahnya, kartu mati gue ada di dia deh.”
”Sama! Kartu mati gue juga ada di si Deni,” Deri menimpali. “Kalo elo gimana, Di?”
”Maksudnya?” Aku tidak mengerti maksud pertanyaan Deri.
”Elo punya temen masa kecil seperti gue sama Deni nggak?” Deri menjelaskan maksud pertanyaannya.
Aku terdiam sambil mengingat-ingat. “Kayaknya nggak deh. Gue juga bingung, ingatan paling jauh yang bisa gue inget itu hari pertama gue masuk SD. Dan sejak SD, temen gue ya temen sekolah aja, itu pun nggak ada yang deket-deket banget.”
”Masa sih nggak ada satu orangpun yang mau deket sama elo?”
”Ada sih, tapi gue dari dulu agak menghindari untuk temenan deket sama orang lain. Gue nggak tau kenapa, tapi kalo ada temen yang agak deket, pasti gue jauhin lagi.”
”Kenapa emang, Di?”
”Gue kayak ada rasa takut untuk punya temen deket. Sebenernya gue takut kalo tiba-tiba temen deket gue itu hilang atau pergi. Makanya milih kayak begitu. Tapi gue sama sekali nggak tau kenapa gue bisa sampe begitu.” Aku terdiam sebentar, mengaduk-aduk isi gelasku yang sudah tandas dengan sedotan.
”Elo punya trauma kali?” Deri angkat bicara.
“Ah perasaan nggak. Sepanjang ingetan gue nggak ada tuh kejadian yang bikin gue trauma. Biasa aja gue dari SD.”
”Tadi elo bilang ingetan itu yang terlama itu hari pertama elo masuk SD. Beneran elo nggak inget apa-apa sebelumnya?” Deni bertanya kepadaku. Alisnya terlihat berkerut.
”Itu dia masalahnya, gue nggak inget apa-apa sebelum gue masuk SD,” jelasku sambil tertawa heran.
”Kok bisa ya? Gue aja bisa inget kejadian-kejadian waktu masih TK,” seru Deri.
Kami semua terdiam sejenak.
”Udah deh nggak usah dibahas lagi, tambah bingung nanti,” kata Deni sambil merogoh saku dalam jaketnya, “Oh iya, Der, ini vcd yang pengen elo pinjem,” Deni menyodorkan sekeping vcd yang diambil dari saku dalam jaketnya.
”Oh iya. Ini dia tujuan kita ketemu elo, Den. Sebenernya bukan gue yang mau minjem, tapi si Andi nih.” Deri menyerahkan vcd itu kepadaku.
”Elo seneng banget basket ya, Di? Niat banget sampe minjem vcd cara latihan tim basket UCLA ke gue.”
”Gue seneng banget, Den. Gue pengen banget bisa maen di Kobatama, makanya gue pengen tau cara latihan yang lebih bagus. Mumpung bakal ada penerimaan sebentar lagi.”
”Wah elo niat banget ya!”
”Nggak tau nih, gue ngerasa sepertinya gue harus serius maen basket. Kayak gue punya janji aja sama seseorang untuk terus maen basket dan masuk Kobatama.”
”Janji sama siapa?”. Deni terus bertanya.
”Nggak tau gue juga. Cuma perasaan gue gitu aja.”
”Hahahaha… Aneh juga elo orangnya ya! Pantes aja bisa temenan sama Deri.” Deni terkekeh lagi.
”Sialan lo, Den!” Deri sedikit tersinggung.
”Berarti elo aneh juga dong, Den,” seruku menimpali.
”Itu sih nggak usah ditanya! Emang si Deni aneh,” jawab Deri.
Deni terlihat keki, sedangkan aku dan Deri tertawa penuh kemenangan.
***
Malam ini aku tak bisa tidur. Tidak biasanya seperti ini. Padahal, setelah sore latihan basket lalu jalan dengan Deri bertemu dengan Deni, aku merasa lelah sekali. Semua gara-gara pembicaraan sore tadi dengan Deri dan Deni tentang teman masa kecil.
Kenapa aku tidak pernah punya teman kecil seperti mereka? Entah kenapa, saat ini aku ingin sekali punya teman kecil, teman yang sudah menghabiskan banyak waktu sejak kecil denganku, yang sudah mengerti aku seutuhnya. Aku memang mempunyai kekasih, tapi tidak akan bisa menggantikan tempat seorang teman masa kecil. Saat ini aku berharap mempunyai teman masa kecil seperti Deri dan Deni. Kalau saja waktu bisa diputar kembali ke masa yang lalu.
Dalam gelisah, akhirnya aku tertidur juga, kemudian bermimpi.
”Andi, Cucuku!” Seseorang memanggilku dari belakang.
Aku menoleh ke arah suara yang dulu pernah sangat dekat denganku. “Kakek? Kakek ada di sini?”
”Iya, Cucuku. Kakek datang karena kakek tau kamu sedang gelisah. Ada apa, Cucuku?” Senyum kakek mengembang.
Ah, aku rindu senyum itu. Senyum yang selalu diberikan kepadaku saat aku sedih. Dari dulu aku selalu dekat dengan kakek. Hingga saat wafatnya lima tahun yang lalu.
”Kek, kenapa aku tidak punya teman masa kecil?” Aku seperti saat kanak-kanak mengadu kepada kakek.
Kakek tersenyum kembali. “Kamu punya, Cucuku. Mari, kakek akan mengajak kamu ke masa kecilmu.”
Kakek menggandeng tanganku. Kemudian dunia gelap, dan aku seperti melayang mendekati sebuah cahaya kecil yang semakin lama semakin dekat. Hingga akhirnya aku masuk ke cahaya itu.
”Lihat itu!” Kekek menunjuk ke sebuah tempat.
Dua anak kecil sedang bermain basket bersama. Mereka sepertinya masih berumur sekitar lima atau enam tahun. Bola basket yang mereka mainkan berukuran lebih kecil dari bola basket yang biasa. Mereka memantul-mantalkan bola itu ke lantai. Bola itu mereka mainkan bergantian. Kadang mereka berlari dan saling mengoper bola itu. Mereka tampak sangat akur. Rona kegembiraan tampak di wajah dua anak kecil itu.
”Siapa mereka, Kek?”
”Apakah kamu tidak mengenali mereka?” Kakek balas bertanya kepadaku.
Aku mengamati mereka lebih cermat. Ya, satu anak kecil itu aku tahu siapa. Ia adalah aku saat masih kecil.
”Itu aku, Kek.”
”Iya kamu benar.” Kakek tersenyum kepadaku.
”Lalu siapa anak kecil yang bermain denganku?” Aku tak mengenali anak kecil itu.
”Namanya adalah Andre. Ia teman masa kecilmu.”
”Teman masa kecilku?” Aku menoleh kepada kakek, tak percaya ucapannya. “Kenapa aku tidak bisa mengingatnya, Kek? Dan kemana dia sekarang?” Pertanyaan bertubi-tubiku dijawab senyuman oleh kakek.
”Kamu yakin ingin tau sebabnya?” Kakek menatapku dengan wajah lembutnya. Garis-garis kerut di wajahnya masih sama seperti terakhir aku mengingatnya.
”Iya, Kek.” Aku menjawab dengan mantap.
”Baiklah. Sekarang pegang tangan Kakek.” Kakek menjulurkan tangannya yang aku sambut dengan segera.
Bayangan dua anak kecil itu menghilang. Aku kembali diselimuti kegelapan, dan tangan kakek menuntunku ke arah cahaya. Seperti tadi, akhirnya aku masuk ke dalam cahaya itu.
Aku kembali melihat bayangan diriku saat masih kecil bersama temanku Andre. Saat itu sepertinya aku sudah berumur sekitar enam atau tujuh tahun. Mereka tampak sedang berjalan pulang dari taman dekat rumahku. Sambil tertawa-tawa mereka berjalan dan mengoper bola basket kecil itu bergantian.
”Dre, basket itu menyenangkan ya?”
”Iya.” Andre setuju denganku. “Aku mau terus bermain basket. Dan jika aku besar nanti aku mau menjadi pemain nasional.”
”Berarti kita sama. Aku juga mau menjadi pemain basket nasional. Berarti kita bisa sama-sama bermain nanti.”
”Iya, kita bisa bermain bersama-sama terus sampai kita besar nanti.”
”Kalau begitu, kita janji ya untuk sama-sama berusaha untuk menjadi pemain basket masional!”
”Iya. Itu janji kita.” Andre berhenti berjalan kemudian menjulurkan jari kelingkingnya kepadaku. Aku menjulurkan juga jari kelingkingku. Kelingking kami bertautan.
”Kakek!” Aku memanggil kakek. “Itu dia alasannya kenapa aku merasa bahwa aku harus terus bermain basket hingga menjadi pemain nasional. Aku selalu merasa itu sebuah janji yang harus ditepati. Namun aku tidak tau berjanji kepada siapa.”
Kakek tersenyum mendengar perkataanku. “Seorang pria dinilai dari janjinya. Janji itu harus kamu tepati, Cucuku!”
”Iya, Kek. Tapi kenapa Andre tidak menepati janjinya? Dimana dia sekarang?”
”Sebaiknya kamu lihat lagi mereka berdua. Pertanyaan kamu akan terjawab setelah itu.”
Sesuai saran kakek, aku kembali memperhatikan Andre dan aku masa kecil.
Aku dan Andre masih berjalan sambil saling mengoper bola basket kecil itu. Namun tidak jauh dari rumah, aku secara tidak sengaja melampar bola terlalu kencang kepada Andre. Bola itu terlepas dari tangkapannya lalu menggelinding ke arah jalan raya.
Andre berusaha mengejarnya, namun bola itu masih saja menggelinding hingga sampai ke jalan raya. Andre yang berlari mengejar bola tidak memperhatikan keadaan sekitar. Sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
Aku berteriak, “Andreeeeeeeeeeee!”
Bunyi decit rem mobil terdengar keras. Bunyi itu berhenti sesaat setelah bunyi keras mobil menghantam sesuatu terdengar.
Aku berteriak sambil berlari ke arah Andre. “Andreeeeee!”
Terlambat. Teriakanku terlambat. Andre sudah terkapar di jalan dengan darah mengucur dari kepalanya. Aku mulai histeris. Mengguncang-guncang tubuh Andre sambil terus memanggil namanya. Andre tetap tidak terbangun.
Keramaian mulai terlihat di sana. Aku yang masih histeris berusaha ditarik dan ditenangkan oleh orang-orang sekitar. Sampai tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, Mama. Peluknya menghentikan histerisku. Aku lunglai… pingsan.
Mataku berkaca-kaca. Kemudian bulir-bulir air mata mulai turun ke pipiku. Aku menoleh ke arah kakek, kemudian memanggil namanya, “Kakek!”
Kakek menatap diriku. Ia menjulurkan kedua tangannya ke arahku. “Kemari, Cucuku!”
Aku memeluk kakek dengan erat. Menangis tersedu-sedu di bahunya, seperti beberapa tahun lalu saat kakek masih ada.
”Menangislah, Cucuku. Menangislah hingga hatimu merasa lega. Itulah gunanya air mata. Untuk mengalirkan duka di hati.” Suara kakek yang lembut membuatku terus menangis hingga beberapa saat. Benar seperti kata kakek, dukaku berangsur mereda.
Air mataku telah berhenti mengalir, tinggal isak tangis yang tersisa sesekali. Aku melepaskan pelukan kakek. Bukan karena aku tak ingin dipeluk lagi, namun banyak hal yang harus kutanyakan kepadanya.
”Kenapa aku tak bisa mengingatnya, Kek?” Satu pertanyaan yang dari tadi ingin kutanyakan, akhirnya terucap juga.
Kakek menghela nafas panjang, kemudian tertunduk. “Ini kesalahan Kakek. Sudah saatnya Kakek menceritakannya kepadamu.”
Aku menatap kakek lekat, menunggu jawaban misteri selama ini.
”Setelah kejadian itu, rupanya kamu tidak bisa menerimanya. Kamu masih terlalu kecil untuk bisa menerima kejadian menyedihkan itu. Kamu menjadi pemurung, mengurung diri di dalam kamar, tidak mau makan, dan susah untuk tidur. Kakek menemanimu setiap hari.” Kakek menghela nafas lagi. “Kakek sedih sekali saat itu. Kakek tidak kuat melihatmu seperti itu. Akhirnya Kakek memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar kamu bisa melupakan kejadian itu. Rupanya doa Kakek terkabul. Entah bagaimana, tepat satu hari sebelum kamu masuk SD tiba-tiba kamu lupa akan semua kejadian sebelumnya, terutama tentang Andre. Begitulah, Cucuku,” jelas kakek panjang.
Aku terperangah mendengar penjelasan kakek. Terjawab sudah semua pertanyaan yang menggangguku selama ini.
”Apakah kamu mau memaafkan Kakek, Cucuku?” Rona penyesalan tampak di raut wajahnya.
”Kakek nggak salah apa-apa. Kakek melakukan ini karena sayang Andi. Seharusnya Andi yang minta maaf sama Kakek. Andi terlalu banyak menyusahkan Kakek dari dulu.” Aku menatap kakek lekat. Rona kawatir yang tadi menggelayut pada wajahnya sudah jauh berkurang.
”Sudahlah, Cucuku. Kamu sudah dewasa sekarang. Sekarang saatnya kakek menanyakan sesuatu kepada kamu.”
”Apa, Kek?”
Kakek menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. “Setelah kamu terbangun dari mimpi ini, apakah kamu ingin tetap melupakan ingatan akan teman masa kecilmu, atau kamu menginginkan ingatan kembali?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan kakek. Beberapa saat aku memikirkan jawabannya, sampai aku akhirnya menentukan keputusanku. “Andi ingin punya teman masa kecil, Kek. Dan walaupun Andre sudah nggak ada, tapi setidaknya Andi ingin menyimpan kenangan itu dalam hati. Walaupun menyedihkan. Tapi Andi yakin, Andre nggak mau untuk dilupakan begitu saja. Apalagi Andi masih mempunyai janji yang harus ditepati.”
Kakek menatapku sambil tersenyum bangga. “Kamu benar-benar sudah dewasa, Cucuku. Kakek bangga kepadamu. Terimakasih, Kakek lega sekarang.” Ia mengelus rambutku seperti dulu sering ia lakukan kepadaku.
”Andi yang harusnya berterimakasih ke Kakek.”
Kakek tersenyum lagi. “Ingatlah, Cucuku, seorang lelaki dinilai dari janjinya. Kakek yakin kamu bisa menepati janji kamu kepada Andre. Dengan begitu, ia bisa tenang dan bahagia di surga.”
”Pasti, Kek. Andi akan berusaha mewujudkan mimpi Andi dan Andre.” Aku tersenyum lagi kepada kakek.
”Kakek yakin kamu bisa, tapi sepertinya ini waktu Kakek untuk pergi lagi. Tugas Kakek sudah selesai. Kakek bisa istirahat dengan tenang sekarang.” Kakek membalas senyumku.
Aku ingin sekali menahan kakek berlama-lama bersamaku, namun sepertinya tidak mungkin. Aku harus melepas kakek pergi, seperti juga melepas Andre. Namun kenangan akan mereka berdua tidak akan hilang dari hatiku.
”Baiklah, Kek. Sampaikan salam Andi buat Andre.”
”Baiklah, Cucuku. Ia pasti bangga melihatmu kini.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Semoga.
Kakek mencium keningku lembut. Sesaat kemudian sekelilingku kembali gelap. Bayangan kakek telah menghilang. Dan seperti sebelumnya, aku melihat sebuah cahaya terang di kejauhan. Aku berjalan menghampiri cahaya itu.
Sebelum aku mencapai cahaya itu, dari kejauhan kulihat bayangan Andre yang menatapku sambil tersenyum. Lalu ia melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang.
Aku memasuki cahaya itu. Dan tiba-tiba yang kulihat adalah langit-langit kamarku. Aku telah terbangun dari tidurku.
Dengan cepat aku beranjak dari ranjang, melihat kalender yang menempel di dinding kamarku, kemudian masuk ke kamar mandi.
Hari ini tepat tigabelas tahun meninggalnya Andre. Rupanya ingatanku tentang Andre telah kembali seutuhnya. Syukurlah. Aku merasa lebih baik sekarang.
Dengan cepat aku mandi dan berganti pakaian. Kemudian aku mengambil sebuah bola kecil dari atas lemari, dan langsung keluar kamar menuju lantai bawah.
”Mau kemana kamu, Di? Tumben pagi-pagi udah rapi,” tanya Mama yang memergoki aku sedang menyomot sebuah pisang goreng yang ada di atas meja makan.
”Pergi.” Aku menjawab sekenanya.
”Mama tau kamu mau pergi. Tapi mau pergi kemana?” Mama heran melihat kelakuanku yang tak seperti biasanya.
”Mau ke makam kakek.”
”Oh. Tapi buat apa kamu bawa bola kecil itu?” Mama masih heran melihat bola yang aku pegang dari tadi.
”Oh, ini? Nanti abis dari makam kakek, Andi mau ke makam Andre. Mau ngasih bola ini buat dia.”
Mama terkejut mendengar kata-kataku. Ia terdiam sejenak, tak mampu berkata-kata. Namun beberapa saat kemudian Mama membuka suara. “Kamu sudah ingat tentang Andre?” Nada kawatir tersirat dari pertanyaannya.
”Udah kok, Ma.” Aku tersenyum kepada Mama.
”Dari siapa kamu tau?”
”Dari kakek.”
”Kakek?” Mama semakin terlihat kawatir.
”Ah, Mama terlalu banyak tanya nih. Udah, Ma, jangan kawatir. Andi baik-bak aja kok.”
Mama menarik nafas panjang. “Ya sudah kalau begitu. Mama percaya anak Mama sudah besar. Kamu lakukan aja yang menurut kamu baik.” Mama tersenyum kepadaku.
”Ya udah, Andi pergi ya, Ma!” Aku bergegas menuju pintu keluar. Namun seketika aku balik lagi dan menghampiri Mama. “Lupa cium tangan. Hehehehe.”
”Dasar anak bandel!” Mama menyodorkan tangannya untuk aku cium.
”Anak bandel Mama pergi dulu ya!”
Mama menjawab dengan senyuman.
***
Kini aku duduk di samping nisan Andre. Setelah tadi selesai membacakan yasin untuk kakek, aku bergegas menuju makam Andre. Sudah ada setangkai bunga chrisan disana, bunga kesukaan Andre. Aku tersenyum melihatnya. Andre memang aneh, anak laki-laki tapi suka sekali dengan bunga, terutama bunga chrisan.
”Maafkan aku, Dre. Sudah terlalu lama aku melupakan kamu. Kamu pasti sedih. Tapi aku harap kamu mengerti. Tapi kalo kamu nggak terima, salahin kakekku aja sana. Kamu kan dekat di sana.” Aku masih saja berkelakar seperti dulu kala. Kamu pasti tertawa kan, Dre!
”Aku nggak bawain kamu apa-apa, tapi aku bawain kamu ini nih!” Aku menaruh bola kecil yang aku bawa ke atas nisannya. “Ini bola kita. Bola yang selalu kita mainkan bersama. Bukannya aku tidak mau menyimpan bola ini, tapi kamu pasti lebih membutuhkannya di sana.” Aku tersenyum sejenak.
”Jangan takut, aku masih inget janji kita kok. Dan aku pasti mewujudkan mimpi kita. Nanti kamu nonton aku ya dari atas sana!”
Setelah aku selesai mendoakannya, aku bangkit berdiri. Aku berjalan beberapa langkah meninggalkan nisan Andre, kemudian menolehkan kepalaku kembali ke arah nisan.
”Main basket itu menyenangkan ya, Dre?”
Dan saat itu aku seakan-akan mendengar Andre menjawab ‘iya’ dari atas sana.
***
Lucu Sekali Senin, 1 Oktober 2007
Bangkit, berdiri
sisi meja jadi pegangan,
Menapak, berjinjit
melangkah,
meraih lagi pegangan lain,
ah… anakku lucu sekali saat belajar berjalan.
