Angga menatap wanita yang tergolek di depannya. Ia sedang tertidur pulas, dengan senyum kenikmatan masih terlihat dari wajahnya.
Angga teringat kata-kata yang pernah diucapkan wanita itu beberapa bulan yang lalu.
“…Aku sudah tunangan sekarang. Andri melamarku sebulan yang lalu.
… Aku butuh calon suami yang punya masa depan yang jelas.
… aku harus realistis sekarang. Kamu mau ngasih aku makan apa nanti? Cinta? Cinta nggak cukup, Angga!�
“Tidak ada yang boleh meremehkan seorang Angga. Tidak seorang pun, termasuk kamu Diva!� katanya sambil tertawa.
“Setelah keperawananmu berhasil aku renggut, sekarang giliran nyawamu,� kata Angga sambil menarik pelatuk pistol yang digenggamnya.
DOR!
Ditulis dalam Cerita 100 Kata