Kau katakan, “I love you!”
Aku terdiam. Kau terdiam.
Dua pikiran mengembara.
Otakku mencerna satu kalimat suci itu.
Aneh!
Aneh!
Getaran itu hilang. Mungkin kata-kata itu sudah begitu kosongnya untukmu sehingga saat kau ucapkan, ia tak lagi berisi.
Tidak menggetarkan hati seperti dulu.
Ku sadar, akupun begitu.
Mungkin hanya ritual murni saat kita berdua,
saat bibir berpagut,
saat jemari berpesta,
saat tubuh menyatu,
saat lenguhan berbalas.
Ah… hilang… maknanya hilang.
Bagiku,
juga bagimu.
Hanya ritual kata saat semua berlalu, saat kita kembali mengenakan baju.
“I love you too!” Sama kosongnya di hatiku.
Dan kita berpisah, seperti tak ada yang terjadi.