
Foto Narsis Krisna Bulan Ini.
Camera : Kodak Z740
Place : Tanah Lot, Bali
Date : December 19th, 2005

Foto Narsis Krisna Bulan Ini.
Camera : Kodak Z740
Place : Tanah Lot, Bali
Date : December 19th, 2005
Dan saat ku tahu kau akan datang
semua ragu pun hilang tiada berbekas
seakan semua tanya menjadi jawab
Sebab yang kunanti
dirimu
akan datang padaku
Dan aku siap tersenyum
menunggumu hingga lahirmu
Ibu Guru mengganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tidak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.
Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?
Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar isika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.
Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri. [diambil dari cover belakang buku]
Review:
Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela merupakan sebuah novel non fiksi karya Tetsuko Kuroyanagi. Diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 1981 oleh Kodansha International, Ltd. Di Indonesia, buku ini diterbitkan pertama kali tahun 2003 oleh Gramedia Pustaka Utama.
Tetsuko menceritakan pengalaman hidupnya saat ia masih bersekolah [SD] dengan sangat menarik. Bukan cara berceritanya yang manarik, tapi cerita hidupnya itu sendiri.
Cerita Totto-chan yang sangat ingin tahu [lebih dari anak-anak seumurnya] ditambah dengan cara pendidikan ‘unik’ yang diterapkan Tomoe Gakuen merupakan sebuah pelajaran berharga yang sebenarnya bisa dipetik oleh para guru di Indonesia, atau bahkan diadopsi sebagai cara pendidikan di Indonesia.
Saya pribadi merasa sangat salut kepada Sasuko Kobayashi [1893 - 1963], sang Kepala Sekolah Tomoe yang berhasil menciptakan [dan menerapkan] cara pendidikan yang bisa mengangkat bakat dan minat setiap murid asuhannya dengan tanpa mengesampingkan pendikan moral dan sopan santun. Dan dari yang saya baca, sebagian besar teman-teman Totto-chan menjadi orang yang berhasil.
Pertanyaannya adalah, apakah bisa cara pendidikan seperti itu diterapkan di Indonesia? Saya menjawab BISA! Namun dengan carut marutnya sistem pendidikan yang diterapkan saat ini di Indonesia, saya tidak yakin hal itu bisa direalisasikan. Diperlukan seorang Sosaku Kobayashi Indonesia untuk menjadi Menteri Pendidikan, atau bahkan Presiden Indonesia.
Yang jelas, kita tertinggal jauh dari Jepang [pasti]. Bayangkan saja, Sosaku Kobayashi sudah menerapkan sistem ini di Tomoe sejak tahun 1937. Dibutuhkan energi yang besar dan dukungan dari banyak pihak untuk menjadikannya berjalan di Indonesia.
Saya cuma bisa berdoa, mudah-mudahan lahir seorang Sosaku Kobayashi di Indonesia, dengan catatan, orang itu lahir di lingkungan berada, punya beking yang kuat, didukung seluruh partai politik di Indonesia, ABRI, dan kalangan agamis. Soalnya sehebat apapun seseorang dan gagasannya untuk memajukan Indonesia, tanpa didukung hal tersebut, hampir mustahil bisa terlaksana.
Oh Indonesia, oh Indonesia!
Kembali lagi ke Bali untuk ke empat kalinya beberapa minggu lalu, memberikan beberapa pengalaman dan kondisi yang cukup menarik dibadingkan beberapa kunjungan sebelumnya. Pengalaman dan kondisi itu saya jabarkan di bawah ini:
1. Menikmati olah raga air.
Untuk pertama kalinya saya menikmati olah raga air. Secara saya adalah kucing, hal ini merupakan pengalaman yang sangat jarang terjadi, dan butuh waktu bagi saya untuk membulatkan tekad untuk membiarkan nyawa saya tergantung pada life jacket yang saya kenakan. Sebenernya nggak segitu-gitu amat sih, tapi namanya juga kucing, berada di atas air adalah prioritas terakhir dalam hidup saya.
Hehehe, sebenernya saya cuma ikut dalam beberapa olahraga air dari banyak yang ditawarkan. Selebihnya, cuma menonton teman2 sambil memotret dengan kamera saya. Oh iya, saya punya kamera digital baru, sebuah Kodak Z740.
Balik ke olah raga air, beberapa permainan yang saya ikuti antara lain:
- Parasailing.
Parasailing itu hampir sama kayak maen parasut. Bedanya, kita nggak pake terjun dari pesawat [thx God], tapi ditarik oleh sebuah boat dengan seutas tali. Nah, yang ini saya nggak setuju dengan sebutan olah raga air, karena kalau kita benar2 memperhatikan petunjuk dari bawah dan menjalankannya, maka hampir tidak mungkin kita mendarat tepat di atas air. Pasti di atas pasir. Jadi lebih tepat kalau disebut sebagai olehraga pantai. Hehehehe. Pemandangan dari atas bener2 bagus, tapi sayangnya segala senjata memetret saya harus ditinggalkan karena takut jatuh, jadi saya nggak bisa motret2 di atas.
- Speed Boat
Speedboat ini sangat menyenangkan bagi sebagian besar orang, tapi karena [sekali lagi] saya adalah kucing, maka menjadi sangat mengerikan. Speedboat harus dilarikan dengan cepat, sebab kalo nggak cepat, nanti dianggap bajaj air. Dan kalo belok, kita harus tetap menarik gas nya. Oh iya, cara menjalankannya kita harus menarik tuas yang kalau disamakan dengan motor, letaknya ada di rem di tangan kanan. Ngerti kan? Terus terang saya takut jatuh soalnya berbeda dengan motor yang jalanannya [cenderung] rata dan ada rem nya, speedboat jalan di atas ombak yang berjalan dan tidak punya rem sama sekali, dan juga susah untuk dibelokkan. Alhasil beberapa kali, saya hampir menabrak speedboat lain dan kapal pencari ikan. Hehehehe. Thanks God cuman 15 menit.
- Flying Fish, Banana Boat dll
Nah, permainan2 yang ini saya nggak berani ikutan, soalnya kemungkinan untuk jatuh ke air adalah 99,99%. Saya nggak mau mengalami kondisi di mana air menutupi seluruh tubuh saya dalam jumlah yang besar. Flying Fish itu semacam balon besar berbentuk mirip ikan [makanya disebut Fish] dimana kita berbaring di atsnya dan ditarik dengan boat dengan kecepatan tinggi. Fishnya akan terbang akibat dorongan angin. No, thanks! Nggak akan saya mau nyoba. Sedangkan Banana Boat semua juga sering liat kan? bentuknya seperti boat dari balon, panjang, kemudian dinaiki oleh beberapa orang dan ditarik oleh boat dengan kecepatan tinggi. Hampir 100% kemungkinan jatuh je airnya, soalnya biasanya pengemudi boat akan berputar haluan dengan cepat sehingga Banana nya oleng. Yang ini, saya juga nggak mau ikutan. Lagipula, selain takut air, kucing kan nggak suka pisang. Lho???
- Snorkling
Dengan alasan apapun, nggak mungkin ada kucing yang mau snorkling. Oleh karena itu, saya cuma memandang teman2 yang lagi snorkling sambil motret2 dari kapal yang kita naiki. Oh iya, setelah pengalaman pertama naik kapal waku di New Zealand dulu, saya semakin yakin bahwa ‘nenek moyangku bukan pelaut‘ seperti ada di lagu itu. Dan saya yakin kalau nenek moyangku seorang petani. Buktinya, saya masih saja merasa pusing a.k.a mabuk laut. Thanks God ombaknya nggak besar2 amat, jadi saya nggak sampe jackpot2 seperti dulu.
2. Ke Pulau Kura-Kura
Orang Bali nyebutnya Turtle Island, turis asing juga nyebutnya begitu. Sepertinya, diambil dari bahasa Inggris. b-( iya lahhhh… Dengan kapal kecil [isi 8 - 10 orang], kami nyebrang ke sana. Di sana [tentu saja] banyak kura2, yang saat itu kami dibawa ke tempat penangkarannya. Saat ini penjualan kura2 yang diawetkan dan telurnya sudah dilarang. Bersyukurlah, karena mereka [kura2] memang sudah tinggal sedikit lagi. Dari bayi kura2 sampe kakek kura2 ada di sana. Dan juga ada seekor biawak besar [entah itu komodo atau bukan] lagi diam sambil dicuri2 foto oleh saya.
3. Bali Milik Orang Indonesia
Semenjak Bom Bali II, ada banyak perubahan yang saya lihat di Bali. Terakhir kali saya ke sana saat saya bulan madu tepat satu minggu sebelum Bom Bali II. Thanks God, perjalanan saya waktu itu tidak diundur satu minggu, sebab mungkin saya jadi korban. Kembali lagi ke perubahan di Bali, sekarang Bali menjadi lebih sepi dibandingkan terakhir kali saya ke sana. Dulu saya ingat, di Kuta banyak sekali wisatawan luar negri yang lalu lalang di jalan maupun di pantai. Di pinggir pantai bahkan banyak gerombolan turis asing yang membentuk lingkaran sambil tertawa2 dengan banyak botol bir di depan mereka. Tidak hanya orang kulit putih, tapi pelaut2 Korea dengan masih berpakaian dinas pelaut pun banyak melakukan hal itu. Saya dulu berpikir, apakah sekarang pantai Kuta sudah menjadi tempat mabuknya bule2?
Namun kali ini pemandangan itu sudah nggak ada. Memang masih [cukup] banyak wisatawan yang bermain di Pantai Kuta, namun sekarang sepertinya lebih banyak wisatawan domestik dibandingkan luar negri. Kondisi ini memprihatinkan sekaligus menyenangkan buat saya. Memprihatinkan dalam hal turunnya jumlah wisatawan luar negri yang berkunjung akibat Bom Bali II [yang tentu saja mengurangi devisa Indonesia], namun menyenangkan buat saya karena sekarang Bali sudah seperti rumah kita sendiri. Dengan kata lain, Bali Milik Orang Indonesia sekarang.
Mungkin saya termasuk orang yang konservatif karena merasa tidak nyaman dengan pengaruh wisatawan luar negri yang berkunjung ke Bali. Namun merasakan Bali seperti milik orang Indonesia [lagi] dibandingkan ‘tempat maen bule’ membuat saya merasa bahagia. Maaf karena saya merasa lebih nyaman berada di sekeliling bangsa saya sendiri dibandingkan bangsa lain.
Selain itu, memang ternyata saya melihat banyak pengaruh buruk yang dibawa oleh wisatawan luar negri itu ke Bali [dan negara kita]. Salah satunya adalah masalah sex. Tidak bisa dipungkiri, Bali sekarang menjadi tempat sex yang luas. Banyak wanita bule yang bergandeng tangan atau kencan dengan pemuda lokal, maupun pria bule yang menggandeng wanita bali masuk keluar hotel di sana. Mungkin orang tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu, tapi ada beberapa kondisi yang lebih buruk dari pada yang saya tulis di atas. Kondisi itu adalah tentang ‘homoseksual’ yang mulai menjamur di Bali. Bayangkan, saya pernah melihat di sebuah cafe pinggir jalan di Kuta ada seorang pria bule yang bernyanyi dengan mesra dengan seorang pemuda Bali. Dengan santainya mereka bermesraan, tanpa malu dilihat orang lain. Bahkan di Jakarta, kota Metropilitan sebesar ini saja tidak menonjolkan seperti itu. Pertanyaannya adalah, apakah sekarang hal itu dianggap lumrah? Nggak sama sekali, itu jawaban saya.
Ya, memang perubahan sebuah keadaan atau kondisi pasti ada sisi negatifnya dan positifnya. Namun, saya sebagai pecinta Indonesia, akan lebih bahagia apabila pariwisata Bali dapat kembali seperti semua NAMUN dengan tetap menonjolkan citra Indonesia sebagai negri dengan budaya timur yang kental.