Beberapa minggu yang lalu, ada satu [lagi] teman satu kantor pindah kerja ke perusahaan lain. Kebetulan dia pernah menjadi teman satu departemen beberapa tahun lalu sebelum departemen kami terpecah menjadi dua. Dia salah satu staff di departemennya yang saya anggap punya banyak kualitas yang sangat mengagumkan. Merupakan sebuah kehilangan besar bagi Telkomsel atas kepergiannya.
Soal ‘pindah kerja’ ini sudah menjadi sebuah ‘pemandangan’ umum beberapa waktu belakangan. Dan untuk saya, itu wajar-wajar saja sebab pasti ada niat di semua karyawan [sekecil apapun] untuk pindah kerja.
Ada beberapa hal yang menyebabkan seorang karyawan ingin pindah kerja ke perusahaan lain. Dan menurut saya, alasan itu dapat berupa:
1. Pendapatan yang kurang memadai.
Jumlah pendapatan hampir menjadi faktor utama seseorang mempunyai niat untuk pindah kerja. Wajar saja, sebab alasan pertama setiap orang bekerja adalah mencari uang. Jadi, kalo uang yang kita terima kurang untuk kebutuhan hidup, mungkin pindah kerja merupakan salah satu solusinya.
2. Karir path yang kurang menjanjikan.
Ini salah satu faktor seorang karyawan berniat untuk pindah kerja. Buat apa kerja lama-lama kalau karir tidak bisa meningkat. Hal ini sering terjadi pada karyawan yang bekerja pada perusahaan pribadi milik seseorang. Apalagi kalau perusahaan itu merupakan perusahaan keluarga. Hal ini juga bisa terjadi pada karyawan yang berstatus ‘kontrak’ dan tidak memperoleh kesempatan untuk menjadi karyawan tetap.
3. Suasana kerja yang kurang kondusif.
Suasana kerja yang tidak kondusif dapat disebabkan rekan kerja yang sulit diajak bekerja sama, bos yang super galak or emosional, atau tempat kerja yang kurang nyaman. Hal ini biasanya menyebabkan seseorang merasa tidak betah untuk bekerja di perusahaan itu.
Oke, mungkin ada lebih banyak lagi faktor untuk pindah kerja, tapi menurut saya tiga faktor tersebut biasanya menjadi alasan utama.
Nah, untuk pindah kerja ada beberapa kondisi yang menurut saya sebaiknya terpenuhi, agar pindah kerja tidak merupakan hal yang sia-sia. Kondisi tersebut berupa:
1. Adanya tawaran bekerja
Melamar pekerjaan memerlukan banyak waktu dan biaya. Karena proses seleksi membutuhkan waktu, dan kadang membuat kita harus mengambil cuti untuk mengikuti proses seleksi, maka melamar pekerjaan berdasarkan iklan merupakan hal yang tidak efisien. Oleh karena itu, sebaiknya kita melamar pekerjaan karena adanya tawaran dari seseorang untuk bergabung dengan perusahaan mereka. Caranya? Tanyalah rekan bisnis perusahaan kita apakah ada lowongan di perusahaan mereka, terutama rekan bisnis yang sudah kita kenal dengan baik. Dengan begitu, kemungkinan untuk pindah ke perusahaan mereka terbuka lebih lebar.
2. Pastikan benefit yang didapatkan lebih besar.
Pastikan bahwa pindah ke perusahaan yang kita tuju akan memperoleh lebih banyak benefit seperti gaji yang lebih memadai, karir path yang lebih jelas dan lingkungan kerja yang lebih kondusif. Gaji dapat kita ketahui setelah wawancara atau menanyakannya dengan ‘orang dalam’. Karir path juga dapat ditanyakan pada saat wawancara. Namun biasanya, perusahaan publik dan BUMN mempunyai jenjang karir yang lebih jelas. Untuk lingkungan kerja, hanya bisa kita ketahui setelah kita bekerja di perusahaan itu. Namun perusahaan publik dan BUMN atau perusahaan nasional dan multinasional biasanya mempunya budah perusahaan sendiri. Dan budaya perusahaan yang dibentuk dan dipelihara sebuah perusahaan dengan baik dapat menimbulkan suasana kerja yang lebih kondusif.
Namun, sekali lagi, pindah kerja tidak menjadi hal pertama yang harus ditempuh saat megalami masalah seperti di atas. Banyak cara2 yang sebaiknya dicoba sebelum memutuskan untuk pindah kerja seperti:
1. Berjuang melalui Serikat Pekerja
Serikat pekerja yang baik dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan. Oleh karena itu, berjuang melalui Serikat Pekerja untuk bernegosiasi atau membuat Perjanjian Kerja Bersama (PKB) adalah jalan yang cukup efisien. Selain gaji, tunjangan, dan kesejahteraan yang lain dapat diupayakan terus meningkat, jenjang karir pun dapat menjadi bahasan dalam PKB antara Serikat Pekerja dan pihak manajemen perusahaan.
2. Atasi perselisihan
Perselisihan baik itu dengan rekan kerja maupun bos dapat diselesaikan dengan musyawaran. Yakinlah bahwa semua hal dapat dinegosiasikan bersama. Mungkin ada saatnya kita tidak sadar bahwa penyebab tidak kondusifnya lingkungan kerja disebabkan oleh diri kita sendiri. Seperti kata pepatah ‘Semut di seberang lautan tampak, Gajah di pelupuk mata tidak tampak’, ada baiknya kita introspeksi diri sendiri.
3. Kreatif
Usahakan untuk banyak berkreatifitas. Hal ini biasanya yang membuat kita lebih ‘terlihat’ oleh atasan maupun rekan kerja. Kreatifitas kita biasanya dapat membantu agar kita lebih dihargai sehingga mungkin jika ada kesempatan untuk naik ke jenjang lebih tinggi, nama kita merupakan yang teratas untuk menempati kedudukan itu.
4. Nikahi anak bos
Untuk menjabat atau naik tingkat di perusahaan keluarga [keluarga orang lain tentunya], masuk menjadi bagian keluarga merupakan salah satu caranya. Untuk itu, menikahi anak bos mungkin salah satu solusinya. Hal ini tidak saya rekomendasikan, namun apabila mau mencobanya, hal itu bisa menjadi salah satu solusi yang paling cepat.
Mungkin yang saya utarakan tidak sepenuhnya benar, namun hal itu adalah hasil pemikiran saya dan tidak mengacu pada ahli atau buku apapun. Saya tidak menganjurkan untuk pindah kerja, namun apabila hal itu merupakan jalan terakhir, mungkin paptut dicoba. Terakhir, saya tidak bertanggung jawab atas segala yang terjadi akibat dari pelaksanaan saran2 saya di atas. Apabila dicoba, resiko menjadi tanggung jawab masing2 orang.
Ditulis dalam Sharing