Belakangan ini, saya memperhatikan ada kecenderungan beberapa penulis memasukkan dirinya dalam tulisannya di novel atau film [dalam hal ini naskah film]. Mungkin tidak sejelas itu dirinya masuk dalam tulisan, atau berarti dia menuliskan kisah hidupnya. Bukan! Tapi belakangan ini saya baca banyak novel yang salah satu tokohnya penulis, atau akhirnya menjadi penulis, baik itu novel, rubrik di majalah, dll.
Kita ambil beberapa contoh:
1. Gege Mengejar Cinta [Adhitya Mulya]
Gege adalah penyiar, yang dalam ceritanya malah menulis sandiwara radio, dan pada akhirnya dia menerbitkan sebuah novel. Bisa dibaca di bab terakhir dimana Tia mengunjungi Gege di acara peluncuran novelnya.
2. Nayla [Djenar Mahesa Ayu]
Nayla seorang wanita yang perjalanan hidupnya penuh dengan kontroversial. Dia pun pada akhirnya menjadi penulis terkenal.
3. Sihir Cinta [Miranda]
Di dalam novel ini, Rhein Prabasnaya, seorang gadis yang mempunyai kelebihan bisa melihat masa depan [ramal-red] menjadi penulis salah satu kolom ramal di sebuah majalah.
4. Virgin [Armantono]
Film Virgin yang akhirnya di novelkan menceritakan tiga orang sahabat cewek [Biyan, Stella, Katie] yang terjebak dalam gaya hidup metropolis [yang menurut saya nggak begitu masuk akal]. Biyan akhirnya menuliskan sebuah novel berdasar kisah hidupnya dan kedua teman2nya itu dari catatan2 kecilnya selama mereka bersama.
Dari ketiga novel dan satu film [yang kemudian dinovelkan], bisa dilihat bahwa tokoh utamanya akhirnya menjadi seorang penulis, baik itu novel, ataupun rubrik majalah. Saya berpikir, apakah itu disebabkan penulis begitu bangganya dengan statusnya sebagai penulis, atau memang mereka bercita-cita menjadi penulis yang sangat terkenal, sehingga tokoh mereka dibuat seperti itu?
Saya akui, saya pun [sedang] menulis sebuah novel yang salah satu tokohnya adalah penulis walaupun tidak membuatnya menjadi tokoh utama cerita. Bukan karena apa-apa, tapi memang jalan ceritanya membutuhkan karakter seorang penulis di dalamnya. Sebuah pembelaan diri yang klasik. Hehehe…
Tapi sebenarnya sih nggak masalah juga, sebab banyak yang seperti itu. Bahkan penulis sekaliber Stephen King saja dalam novelnya Misery menulis tentang kehidupan seorang penulis yang ditawan oleh penggemarnya. Tapi memang [sekali lagi] jalan ceritanya seperti itu.
Terlepas dari [apapun] niat dari sang penulis membuat sang tokoh utama menjadi seorang penulis sukses, baik itu untuk mengangkat citra penulis, atau membanggakan citra dirinya sebagai penulis yang sukses, atau memang itu bagian dari alur cerita, asal nyambung dengan alurnya sih nggak apa-apa. Untungnya ketiga novel dan film itu, sang penulis sebelumnya menghadirkan kemampuan sang tokoh utama dalam menulis. Kalo tiba-tiba aja si tokoh utama jadi penulis tanpa ada awalan apa-apa… saya pasti protes!
owwwwwww….. mau protes toh intinya
jadi nggak boleh????
ternyata selain ngurusin BAST, suka nulis juga toh pak..
wuaduh…………… ternyata…. ada tamu dari Nokia mampir ke sini. Hehehe ginilah kerjaan gue du….
sejak kpn kucing bs nulis??
Buset…. Gw mah setuju banged… Tiap ada novel endingnya pasti tokoh utamanya bikin novel… Yah musti gimana lagi seh??
Btw, long time not see you bro… Miss u so… Biasa Gw mah lagi puasa internet nih gak tau konsen banged ke kuliahnya meski kuliahnya Gw ndiri gak maksimal banged hasilnya… Hah whateva deh
ampe2 Loe tau ndiri kan boss… Bloggie Gw kagak Gw urus ma sekale hehehe… Yah intinya seh lagi males aja hehehe… Nyante aja lah ntar juga klo lagi ngebed pasti bakal OL mulu hihihi…
C u bro kontak2 lewat sms napa??
No gw masih ada kan nyang dulu… Btw, novelnya dah kelar blum neh? Kirim dunks naskahnya ke Gw… :p
Cao au revoir…
terkadang sadar or tidak mau enggak mau karakter penulis selalu ada di dalam karangan karna pada akhirnya karangan adalah gambaran di otak penulis yang di tuangkan di dalam kata2 hanya saja tergantung dari kratifitas penulis meramunya.
tapi yak…. kalo semua penulis bikin tokohnya akhirnya jadi penulis besar semua, trus… nggak seru dong