Dan Hidup Terus Bergulir

masih ada esok, seperti kemarin yang berlalu begitu saja

Penulis dalam Tulisan Senin, 16 Januari 2006

Diarsipkan di bawah: Book Review, Sharing — pangerankucing @ 9:26 am

Belakangan ini, saya memperhatikan ada kecenderungan beberapa penulis memasukkan dirinya dalam tulisannya di novel atau film [dalam hal ini naskah film]. Mungkin tidak sejelas itu dirinya masuk dalam tulisan, atau berarti dia menuliskan kisah hidupnya. Bukan! Tapi belakangan ini saya baca banyak novel yang salah satu tokohnya penulis, atau akhirnya menjadi penulis, baik itu novel, rubrik di majalah, dll.

Kita ambil beberapa contoh:

1. Gege Mengejar Cinta [Adhitya Mulya]

Gege adalah penyiar, yang dalam ceritanya malah menulis sandiwara radio, dan pada akhirnya dia menerbitkan sebuah novel. Bisa dibaca di bab terakhir dimana Tia mengunjungi Gege di acara peluncuran novelnya.

2. Nayla [Djenar Mahesa Ayu]

Nayla seorang wanita yang perjalanan hidupnya penuh dengan kontroversial. Dia pun pada akhirnya menjadi penulis terkenal.

3. Sihir Cinta [Miranda]

Di dalam novel ini, Rhein Prabasnaya, seorang gadis yang mempunyai kelebihan bisa melihat masa depan [ramal-red] menjadi penulis salah satu kolom ramal di sebuah majalah.

4. Virgin [Armantono]

Film Virgin yang akhirnya di novelkan menceritakan tiga orang sahabat cewek [Biyan, Stella, Katie] yang terjebak dalam gaya hidup metropolis [yang menurut saya nggak begitu masuk akal]. Biyan akhirnya menuliskan sebuah novel berdasar kisah hidupnya dan kedua teman2nya itu dari catatan2 kecilnya selama mereka bersama.

Dari ketiga novel dan satu film [yang kemudian dinovelkan], bisa dilihat bahwa tokoh utamanya akhirnya menjadi seorang penulis, baik itu novel, ataupun rubrik majalah. Saya berpikir, apakah itu disebabkan penulis begitu bangganya dengan statusnya sebagai penulis, atau memang mereka bercita-cita menjadi penulis yang sangat terkenal, sehingga tokoh mereka dibuat seperti itu?

Saya akui, saya pun [sedang] menulis sebuah novel yang salah satu tokohnya adalah penulis walaupun tidak membuatnya menjadi tokoh utama cerita. Bukan karena apa-apa, tapi memang jalan ceritanya membutuhkan karakter seorang penulis di dalamnya. Sebuah pembelaan diri yang klasik. Hehehe…

Tapi sebenarnya sih nggak masalah juga, sebab banyak yang seperti itu. Bahkan penulis sekaliber Stephen King saja dalam novelnya Misery menulis tentang kehidupan seorang penulis yang ditawan oleh penggemarnya. Tapi memang [sekali lagi] jalan ceritanya seperti itu.

Terlepas dari [apapun] niat dari sang penulis membuat sang tokoh utama menjadi seorang penulis sukses, baik itu untuk mengangkat citra penulis, atau membanggakan citra dirinya sebagai penulis yang sukses, atau memang itu bagian dari alur cerita, asal nyambung dengan alurnya sih nggak apa-apa. Untungnya ketiga novel dan film itu, sang penulis sebelumnya menghadirkan kemampuan sang tokoh utama dalam menulis. Kalo tiba-tiba aja si tokoh utama jadi penulis tanpa ada awalan apa-apa… saya pasti protes!

 

 

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela Kamis, 29 Desember 2005

Diarsipkan di bawah: Book Review, Sharing — pangerankucing @ 9:31 am

Resume:

Ibu Guru mengganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tidak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar isika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri. [diambil dari cover belakang buku]

Review:

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela merupakan sebuah novel non fiksi karya Tetsuko Kuroyanagi. Diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 1981 oleh Kodansha International, Ltd. Di Indonesia, buku ini diterbitkan pertama kali tahun 2003 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Tetsuko menceritakan pengalaman hidupnya saat ia masih bersekolah [SD] dengan sangat menarik. Bukan cara berceritanya yang manarik, tapi cerita hidupnya itu sendiri.

Cerita Totto-chan yang sangat ingin tahu [lebih dari anak-anak seumurnya] ditambah dengan cara pendidikan ‘unik’ yang diterapkan Tomoe Gakuen merupakan sebuah pelajaran berharga yang sebenarnya bisa dipetik oleh para guru di Indonesia, atau bahkan diadopsi sebagai cara pendidikan di Indonesia.

Saya pribadi merasa sangat salut kepada Sasuko Kobayashi [1893 - 1963], sang Kepala Sekolah Tomoe yang berhasil menciptakan [dan menerapkan] cara pendidikan yang bisa mengangkat bakat dan minat setiap murid asuhannya dengan tanpa mengesampingkan pendikan moral dan sopan santun. Dan dari yang saya baca, sebagian besar teman-teman Totto-chan menjadi orang yang berhasil.

Pertanyaannya adalah, apakah bisa cara pendidikan seperti itu diterapkan di Indonesia? Saya menjawab BISA! Namun dengan carut marutnya sistem pendidikan yang diterapkan saat ini di Indonesia, saya tidak yakin hal itu bisa direalisasikan. Diperlukan seorang Sosaku Kobayashi Indonesia untuk menjadi Menteri Pendidikan, atau bahkan Presiden Indonesia.

Yang jelas, kita tertinggal jauh dari Jepang [pasti]. Bayangkan saja, Sosaku Kobayashi sudah menerapkan sistem ini di Tomoe sejak tahun 1937. Dibutuhkan energi yang besar dan dukungan dari banyak pihak untuk menjadikannya berjalan di Indonesia.

Saya cuma bisa berdoa, mudah-mudahan lahir seorang Sosaku Kobayashi di Indonesia, dengan catatan, orang itu lahir di lingkungan berada, punya beking yang kuat, didukung seluruh partai politik di Indonesia, ABRI, dan kalangan agamis. Soalnya sehebat apapun seseorang dan gagasannya untuk memajukan Indonesia, tanpa didukung hal tersebut, hampir mustahil bisa terlaksana.

Oh Indonesia, oh Indonesia!

 

Book Review : Shaman King Rabu, 26 Oktober 2005

Diarsipkan di bawah: Book Review — pangerankucing @ 3:53 am

1569319022.jpg [Shaman King] merupakan sebuah Komik karangan Hiroyuki Takei. Ini menjadi komik pertama yang akan gue review, soalnya komik ini adalah salah satu komik favorit gue.

Shaman King, mempunyai tokoh utama bernama Yoh Asakura yang merupakan seorang Shaman. Shaman merupakan seseorang yang mempunyai kelebihan yaitu dapat melihat dan mempergunakan kekuatan roh atau bisa juga disebut sebagai penghubung antara manusia dengan dunia roh. Roh-nya pun bermacam-macam, dari mulai roh manusia, binatang, atau roh suci.

Setiap 500 tahun sekali diadakan pertarungan antar Shaman yang akan menghasilkan seorang Shaman King, seorang Shaman yang akan diperbolehkan untuk memiliki Roh Agung, sumber dari segala Roh.

Cara bertarungnya dengan melakukan Oversoul [penggabungan roh dengan Shaman], dan melakukan pertarungan dengan oversoul mereka. Semakin besar dan kuat oversoulnya, semakin kuat mereka bertarung.

Seperti cerita2 lainnya, pasti ada yang baik dan ada yang jahat. Yoh Asakura, beserta teman2nya [Ryu si pedang kayu, Horo horo, Tao Ren, Lyserg] berusaha untuk menghalangi seorang Shaman paling hebat dan jahat yaitu HAO dalam ambisinya memperoleh gelar Shaman King dan menghabisi seluruh umat manusia.

Hao, yang ternyata mempunyai marga Asakura juga, adalah kakak Yoh. Mereka saudara kembar tepatnya. Hao yang ber-reinkarnasi pada tubuh ibu dari Yoh ternyata kehilangan beberapa kekuatannya karena terbagi oleh Yoh.

Bagaimana akhir dari pertarungan dua saudara kembar memperebutkan gelar Shaman King ini? Gue juga belum selesai bacanya.

Tapi secara overall, komik ini sangat layak untuk dibaca bahkan dikoleksi.

 

 

Book Review : 5cm. Kamis, 16 Juni 2005

Diarsipkan di bawah: Book Review — pangerankucing @ 10:55 am

“Udah berapa sering sih shit deja vu kita?”
“Banyak!”
“Kita bosen kali ya, kemana-mana berlima mulu…”
“Gue sih nggak pernah bosen sama kalian.”
“Bukan sama orang-orangnya, tapi sama ‘kita’-nya.”

Lima orang sahabat, Arial, Zafran, Ian, Genta, dan Riani sepakat untuk tidak bertemu dan berhubungan satu sama lain. Padahal mereka bersahabat sudah hampir tujuh tahun lamanya. Mereka saling mengerti satu sama lain walaupun sifat mereka berbeda. Akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah selama tiga bulan, berusaha keluar dari ‘gua’ yang mereka ciptakan sendiri, dan mulai melihat dunia luar, mengejar mimpi mereka masing-masing.

Tiga bulan berselang, banyak perubahan yang terjadi. Dari mulai pendidikan, karir, idealisme, dan tentunya love life. Semuanya terkuak dalam sebuah perjalanan ‘reuni’ mereka mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru.
Dan di sanalah cerita bergulir.

Donny Dhirgantoro, penulis 5 cm. mempunya wawasan yang sangat luas, tercermin dari tulisannya yang sangat beragam membahas berbagai sisi, dari mulai dari lagu (banyak syair lagu yang ditulis di sini), kata-kata filsuf dan orang terkenal lainnya (Plato, Socrates, Einstein dll), dunia kerja, politik (walaupun sedikit), dan juga humanisme.

Kehebatan penulis terlihat sekali saat menggambarkan dengan detail perjalanan dari Jakarta (stasiun Senen) sampai ke atas puncak Mahameru. Pembaca bagaikan berada di sana, merasakan dinginnya Ranu Pane, indahnya Ranu Kumbolo, mistisnya Kalimati, dan manakjubkannya puncak Mahameru.

Cerita tidak berakhir begitu saja. Di puncak tertinggi Mahameru, pembaca akan merasakan keharuan yang luar biasa saat lima sahabat (ditambah satu adik Arial) mengikuti upacara bendera pas 17 Agustus di sana.

Extra ordinary story ini dikemas dengan ringan, walaupun memunculkan teori-teori filsafat dari filsuf-filsuf terkenal jaman dahulu. Humor-humor yang bisa membuat terpingkal-pingkal dipadu dengan berbagai keharuan yang bisa membuat kita menitikkan air mata.

Terus 5 cm. artinya apa? Biarlah teman-teman membacanya sendiri. Nggak seru kalau dituliskan di sini.

“Ada yang pernah bilang kalo idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh generasi muda.”
“kita sudah buktiin kalo pendapat itu salah.”