Dan Hidup Terus Bergulir

masih ada esok, seperti kemarin yang berlalu begitu saja

Cerpen: Teman Masa Kecil Rabu, 7 November 2007

Diarsipkan di bawah: Baru!, Cerpen — pangerankucing @ 1:45 am

 ”Temen lo mana, Der?” Aku mulai kesal. Ice capuccino di depanku sudah tandas, sementara orang yang kami tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya.
 Deri melirik jam tangannya sekilas. “Sebentar lagi pasti sampe. Jangan takut!”
 ”Kok yakin gitu lo?” Aku ikut melirik jam tanganku. Sudah hampir satu jam kami menunggu.
 ”Kalo tentang Deni, gue sih nggak akan pernah salah.”
 ”Berarti elo tau kalo dia bakal telat satu jam?” Aku menatap Deri, berharap tebakanku salah.
 ”Yupe!” Deri menjawab tanpa rasa bersalah.
 ”Sialan lo! Tau gitu kan gue bisa pulang dulu ganti baju.” Aku mencium kaos basket yang masih menempel di tubuhku. “Mana bau keringet lagi.”
 ”Yaelah, Di. Temen gue juga cowok. Ngapain juga pake rapi-rapi.” Deri menyeruput juice melonnya hingga tandas.
 ”Gue nggak perduli sama temen lo, Der. Masalahnya ini Bandung Super Mall nih. BSM. Kan gue nggak bisa ngeceng kalo bau gini.”
 ”Ah, tujuan kita ke sini kan bukan mau ngeceng. Lagian sabar aja, bentar lagi juga Deni dateng.” Deri kemudian memperhatikan jarum panjang jam tangannya. “Liat ke arah pintu masuk deh! Dia bakal muncul dalam detik ke 5.. 4.. 3.. 2.. 1.. 0!”
 Tepat pada saat Deri menyebut angka nol, seorang pemuda muncul dari balik pintu masuk.
 ”Bener kan kata gue. Tuh si Deni dateng.”
Aku menatap Deri dan Deni bergantian dengan tidak percaya.

“Hei, Gila! Udah lama nunggunya?” Deni menyapa Deri sambil meninju lengan atasnya.
“Seperti biasa, satu jam tepat. Nggak lebih, nggak kurang satu detikpun.”
 ”Hahaha! Masih aja on time. Udah tau gue bakal telat juga!”
 ”Elo yang harus perbaikin kebiasaan ngaretlo itu. Bukan gue yang harus nyesuain elo!” Kini giliran Deri yang meninju lengan atas Deni. “Gara-gara elo, si Andi nunggu kelamaan. Oh iya, kenalin nih, Andi temen gue!” Deri akhirnya mengenalkan aku kepada Deni. Kami berdua bersalaman dan saling menyebutkan nama masing-masing.

 Setelah kami semua duduk, aku yang sudah lama menyimpan rasa penasaran tentang mereka berdua, langsung angkat bicara, “Elo berdua udah lama ya temenannya?”
 ”Hmmm lumayan deh. Sepanjang gue bisa inget, gue udah temenan sama dia,” jawab Deri.
 ”Iya, pokoknya segala sesuatu yang bisa gue inget dari masa kecil gue, pasti ada si Deri,” Deni menambahkan.
 Aku terperangah. “Berarti elo berdua udah temenan sebelum elo bisa mengingat?” Aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal. “Berarti dari umur berapa ya?”
 ”Kata nyokap gue sih, kita temenan dari umur dua tahunan,” Deri menjawab kembali.
 ”Pantes aja elo tau kalo Deni bakal ngaret satu jam, sampe detiknya juga.”
 ”Jangankan itu, si Deri sih tau semuanya tentang gue. Istilahnya, kartu mati gue ada di dia deh.”
 ”Sama! Kartu mati gue juga ada di si Deni,” Deri menimpali. “Kalo elo gimana, Di?”
 ”Maksudnya?” Aku tidak mengerti maksud pertanyaan Deri.
 ”Elo punya temen masa kecil seperti gue sama Deni nggak?” Deri menjelaskan maksud pertanyaannya.
 Aku terdiam sambil mengingat-ingat. “Kayaknya nggak deh. Gue juga bingung, ingatan paling jauh yang bisa gue inget itu hari pertama gue masuk SD. Dan sejak SD, temen gue ya temen sekolah aja, itu pun nggak ada yang deket-deket banget.”
 ”Masa sih nggak ada satu orangpun yang mau deket sama elo?”
 ”Ada sih, tapi gue dari dulu agak menghindari untuk temenan deket sama orang lain. Gue nggak tau kenapa, tapi kalo ada temen yang agak deket, pasti gue jauhin lagi.”
 ”Kenapa emang, Di?”
 ”Gue kayak ada rasa takut untuk punya temen deket. Sebenernya gue takut kalo tiba-tiba temen deket gue itu hilang atau pergi. Makanya milih kayak begitu. Tapi gue sama sekali nggak tau kenapa gue bisa sampe begitu.” Aku terdiam sebentar, mengaduk-aduk isi gelasku yang sudah tandas dengan sedotan.
 ”Elo punya trauma kali?” Deri angkat bicara.
“Ah perasaan nggak. Sepanjang ingetan gue nggak ada tuh kejadian yang bikin gue trauma. Biasa aja gue dari SD.”
 ”Tadi elo bilang ingetan itu yang terlama itu hari pertama elo masuk SD. Beneran elo nggak inget apa-apa sebelumnya?” Deni bertanya kepadaku. Alisnya terlihat berkerut.
 ”Itu dia masalahnya, gue nggak inget apa-apa sebelum gue masuk SD,” jelasku sambil tertawa heran.
 ”Kok bisa ya? Gue aja bisa inget kejadian-kejadian waktu masih TK,” seru Deri.
Kami semua terdiam sejenak.

 ”Udah deh nggak usah dibahas lagi, tambah bingung nanti,” kata Deni sambil merogoh saku dalam jaketnya, “Oh iya, Der, ini vcd yang pengen elo pinjem,” Deni menyodorkan sekeping vcd yang diambil dari saku dalam jaketnya.
 ”Oh iya. Ini dia tujuan kita ketemu elo, Den. Sebenernya bukan gue yang mau minjem, tapi si Andi nih.” Deri menyerahkan vcd itu kepadaku.
 ”Elo seneng banget basket ya, Di? Niat banget sampe minjem vcd cara latihan tim basket UCLA ke gue.”
 ”Gue seneng banget, Den. Gue pengen banget bisa maen di Kobatama, makanya gue pengen tau cara latihan yang lebih bagus. Mumpung bakal ada penerimaan sebentar lagi.”
 ”Wah elo niat banget ya!”
 ”Nggak tau nih, gue ngerasa sepertinya gue harus serius maen basket. Kayak gue punya janji aja sama seseorang untuk terus maen basket dan masuk Kobatama.”
 ”Janji sama siapa?”. Deni terus bertanya.
 ”Nggak tau gue juga. Cuma perasaan gue gitu aja.”
 ”Hahahaha… Aneh juga elo orangnya ya! Pantes aja bisa temenan sama Deri.” Deni terkekeh lagi.
 ”Sialan lo, Den!” Deri sedikit tersinggung.
 ”Berarti elo aneh juga dong, Den,” seruku menimpali.
 ”Itu sih nggak usah ditanya! Emang si Deni aneh,” jawab Deri.
 Deni terlihat keki, sedangkan aku dan Deri tertawa penuh kemenangan.
***

 Malam ini aku tak bisa tidur. Tidak biasanya seperti ini. Padahal, setelah sore latihan basket lalu jalan dengan Deri bertemu dengan Deni, aku merasa lelah sekali. Semua gara-gara pembicaraan sore tadi dengan Deri dan Deni tentang teman masa kecil.

 Kenapa aku tidak pernah punya teman kecil seperti mereka? Entah kenapa, saat ini aku ingin sekali punya teman kecil, teman yang sudah menghabiskan banyak waktu sejak kecil denganku, yang sudah mengerti aku seutuhnya. Aku memang mempunyai kekasih, tapi tidak akan bisa menggantikan tempat seorang teman masa kecil. Saat ini aku berharap mempunyai teman masa kecil seperti Deri dan Deni. Kalau saja waktu bisa diputar kembali ke masa yang lalu.

 Dalam gelisah, akhirnya aku tertidur juga, kemudian bermimpi.

 ”Andi, Cucuku!” Seseorang memanggilku dari belakang.
 Aku menoleh ke arah suara yang dulu pernah sangat dekat denganku. “Kakek? Kakek ada di sini?”
 ”Iya, Cucuku. Kakek datang karena kakek tau kamu sedang gelisah. Ada apa, Cucuku?” Senyum kakek mengembang.
 Ah, aku rindu senyum itu. Senyum yang selalu diberikan kepadaku saat aku sedih. Dari dulu aku selalu dekat dengan kakek. Hingga saat wafatnya lima tahun yang lalu.
 ”Kek, kenapa aku tidak punya teman masa kecil?” Aku seperti saat kanak-kanak mengadu kepada kakek.
 Kakek tersenyum kembali. “Kamu punya, Cucuku. Mari, kakek akan mengajak kamu ke masa kecilmu.”
 Kakek menggandeng tanganku. Kemudian dunia gelap, dan aku seperti melayang mendekati sebuah cahaya kecil yang semakin lama semakin dekat. Hingga akhirnya aku masuk ke cahaya itu.

 ”Lihat itu!” Kekek menunjuk ke sebuah tempat.
 Dua anak kecil sedang bermain basket bersama. Mereka sepertinya masih berumur sekitar lima atau enam tahun. Bola basket yang mereka mainkan berukuran lebih kecil dari bola basket yang biasa. Mereka memantul-mantalkan bola itu ke lantai. Bola itu mereka mainkan bergantian. Kadang mereka berlari dan saling mengoper bola itu. Mereka tampak sangat akur. Rona kegembiraan tampak di wajah dua anak kecil itu.
 ”Siapa mereka, Kek?”
 ”Apakah kamu tidak mengenali mereka?” Kakek balas bertanya kepadaku.
 Aku mengamati mereka lebih cermat. Ya, satu anak kecil itu aku tahu siapa. Ia adalah aku saat masih kecil.
 ”Itu aku, Kek.”
 ”Iya kamu benar.” Kakek tersenyum kepadaku.
 ”Lalu siapa anak kecil yang bermain denganku?” Aku tak mengenali anak kecil itu.
 ”Namanya adalah Andre. Ia teman masa kecilmu.”
 ”Teman masa kecilku?” Aku menoleh kepada kakek, tak percaya ucapannya. “Kenapa aku tidak bisa mengingatnya, Kek? Dan kemana dia sekarang?” Pertanyaan bertubi-tubiku dijawab senyuman oleh kakek.
 ”Kamu yakin ingin tau sebabnya?” Kakek menatapku dengan wajah lembutnya. Garis-garis kerut di wajahnya masih sama seperti terakhir aku mengingatnya.
 ”Iya, Kek.” Aku menjawab dengan mantap.
 ”Baiklah. Sekarang pegang tangan Kakek.” Kakek menjulurkan tangannya yang aku sambut dengan segera.

 Bayangan dua anak kecil itu menghilang. Aku kembali diselimuti kegelapan, dan tangan kakek menuntunku ke arah cahaya. Seperti tadi, akhirnya aku masuk ke dalam cahaya itu.

 Aku kembali melihat bayangan diriku saat masih kecil bersama temanku Andre. Saat itu sepertinya aku sudah berumur sekitar enam atau tujuh tahun. Mereka tampak sedang berjalan pulang dari taman dekat rumahku. Sambil tertawa-tawa mereka berjalan dan mengoper bola basket kecil itu bergantian.

 ”Dre, basket itu menyenangkan ya?”
 ”Iya.” Andre setuju denganku. “Aku mau terus bermain basket. Dan jika aku besar nanti aku mau menjadi pemain nasional.”
 ”Berarti kita sama. Aku juga mau menjadi pemain basket nasional. Berarti kita bisa sama-sama bermain nanti.”
 ”Iya, kita bisa bermain bersama-sama terus sampai kita besar nanti.”
 ”Kalau begitu, kita janji ya untuk sama-sama berusaha untuk menjadi pemain basket masional!”
 ”Iya. Itu janji kita.” Andre berhenti berjalan kemudian menjulurkan jari kelingkingnya kepadaku. Aku menjulurkan juga jari kelingkingku. Kelingking kami bertautan.

 ”Kakek!” Aku memanggil kakek. “Itu dia alasannya kenapa aku merasa bahwa aku harus terus bermain basket hingga menjadi pemain nasional. Aku selalu merasa itu sebuah janji yang harus ditepati. Namun aku tidak tau berjanji kepada siapa.”
 Kakek tersenyum mendengar perkataanku. “Seorang pria dinilai dari janjinya. Janji itu harus kamu tepati, Cucuku!”
 ”Iya, Kek. Tapi kenapa Andre tidak menepati janjinya? Dimana dia sekarang?”
 ”Sebaiknya kamu lihat lagi mereka berdua. Pertanyaan kamu akan terjawab setelah itu.”
 Sesuai saran kakek, aku kembali memperhatikan Andre dan aku masa kecil.

 Aku dan Andre masih berjalan sambil saling mengoper bola basket kecil itu. Namun tidak jauh dari rumah, aku secara tidak sengaja melampar bola terlalu kencang kepada Andre. Bola itu terlepas dari tangkapannya lalu menggelinding ke arah jalan raya.
 Andre berusaha mengejarnya, namun bola itu masih saja menggelinding hingga sampai ke jalan raya. Andre yang berlari mengejar bola tidak memperhatikan keadaan sekitar. Sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
 Aku berteriak, “Andreeeeeeeeeeee!”
 Bunyi decit rem mobil terdengar keras. Bunyi itu berhenti sesaat setelah bunyi keras mobil menghantam sesuatu terdengar.
 Aku berteriak sambil berlari ke arah Andre. “Andreeeeee!”
 Terlambat. Teriakanku terlambat. Andre sudah terkapar di jalan dengan darah mengucur dari kepalanya. Aku mulai histeris. Mengguncang-guncang tubuh Andre sambil terus memanggil namanya. Andre tetap tidak terbangun.
 Keramaian mulai terlihat di sana. Aku yang masih histeris berusaha ditarik dan ditenangkan oleh orang-orang sekitar. Sampai tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, Mama. Peluknya menghentikan histerisku. Aku lunglai… pingsan.

 Mataku berkaca-kaca. Kemudian bulir-bulir air mata mulai turun ke pipiku. Aku menoleh ke arah kakek, kemudian memanggil namanya, “Kakek!”
 Kakek menatap diriku. Ia menjulurkan kedua tangannya ke arahku. “Kemari, Cucuku!”
 Aku memeluk kakek dengan erat. Menangis tersedu-sedu di bahunya, seperti beberapa tahun lalu saat kakek masih ada.
 ”Menangislah, Cucuku. Menangislah hingga hatimu merasa lega. Itulah gunanya air mata. Untuk mengalirkan duka di hati.” Suara kakek yang lembut membuatku terus menangis hingga beberapa saat. Benar seperti kata kakek, dukaku berangsur mereda.
 
Air mataku telah berhenti mengalir, tinggal isak tangis yang tersisa sesekali. Aku melepaskan pelukan kakek. Bukan karena aku tak ingin dipeluk lagi, namun banyak hal yang harus kutanyakan kepadanya.
 ”Kenapa aku tak bisa mengingatnya, Kek?” Satu pertanyaan yang dari tadi ingin kutanyakan, akhirnya terucap juga.
 Kakek menghela nafas panjang, kemudian tertunduk. “Ini kesalahan Kakek. Sudah saatnya Kakek menceritakannya kepadamu.”
 Aku menatap kakek lekat, menunggu jawaban misteri selama ini.
 ”Setelah kejadian itu, rupanya kamu tidak bisa menerimanya. Kamu masih terlalu kecil untuk bisa menerima kejadian menyedihkan itu. Kamu menjadi pemurung, mengurung diri di dalam kamar, tidak mau makan, dan susah untuk tidur. Kakek menemanimu setiap hari.” Kakek menghela nafas lagi. “Kakek sedih sekali saat itu. Kakek tidak kuat melihatmu seperti itu. Akhirnya Kakek memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar kamu bisa melupakan kejadian itu. Rupanya doa Kakek terkabul. Entah bagaimana, tepat satu hari sebelum kamu masuk SD tiba-tiba kamu lupa akan semua kejadian sebelumnya, terutama tentang Andre. Begitulah, Cucuku,” jelas kakek panjang.
 Aku terperangah mendengar penjelasan kakek. Terjawab sudah semua pertanyaan yang menggangguku selama ini.
 ”Apakah kamu mau memaafkan Kakek, Cucuku?” Rona penyesalan tampak di raut wajahnya.
 ”Kakek nggak salah apa-apa. Kakek melakukan ini karena sayang Andi. Seharusnya Andi yang minta maaf sama Kakek. Andi terlalu banyak menyusahkan Kakek dari dulu.” Aku menatap kakek lekat. Rona kawatir yang tadi menggelayut pada wajahnya sudah jauh berkurang.
 ”Sudahlah, Cucuku. Kamu sudah dewasa sekarang. Sekarang saatnya kakek menanyakan sesuatu kepada kamu.”
 ”Apa, Kek?”
 Kakek menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. “Setelah kamu terbangun dari mimpi ini, apakah kamu ingin tetap melupakan ingatan akan teman masa kecilmu, atau kamu menginginkan ingatan kembali?”
 Aku terdiam mendengar pertanyaan kakek. Beberapa saat aku memikirkan jawabannya, sampai aku akhirnya menentukan keputusanku. “Andi ingin punya teman masa kecil, Kek. Dan walaupun Andre sudah nggak ada, tapi setidaknya Andi ingin menyimpan kenangan itu dalam hati. Walaupun menyedihkan. Tapi Andi yakin, Andre nggak mau untuk dilupakan begitu saja. Apalagi Andi masih mempunyai janji yang harus ditepati.”
 Kakek menatapku sambil tersenyum bangga. “Kamu benar-benar sudah dewasa, Cucuku. Kakek bangga kepadamu. Terimakasih, Kakek lega sekarang.” Ia mengelus rambutku seperti dulu sering ia lakukan kepadaku.
 ”Andi yang harusnya berterimakasih ke Kakek.”
 Kakek tersenyum lagi. “Ingatlah, Cucuku, seorang lelaki dinilai dari janjinya. Kakek yakin kamu bisa menepati janji kamu kepada Andre. Dengan begitu, ia bisa tenang dan bahagia di surga.”
 ”Pasti, Kek. Andi akan berusaha mewujudkan mimpi Andi dan Andre.” Aku tersenyum lagi kepada kakek.
 ”Kakek yakin kamu bisa, tapi sepertinya ini waktu Kakek untuk pergi lagi. Tugas Kakek sudah selesai. Kakek bisa istirahat dengan tenang sekarang.” Kakek membalas senyumku.
 Aku ingin sekali menahan kakek berlama-lama bersamaku, namun sepertinya tidak mungkin. Aku harus melepas kakek pergi, seperti juga melepas Andre. Namun kenangan akan mereka berdua tidak akan hilang dari hatiku.
 ”Baiklah, Kek. Sampaikan salam Andi buat Andre.”
 ”Baiklah, Cucuku. Ia pasti bangga melihatmu kini.”
 Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Semoga.
 Kakek mencium keningku lembut. Sesaat kemudian sekelilingku kembali gelap. Bayangan kakek telah menghilang. Dan seperti sebelumnya, aku melihat sebuah cahaya terang di kejauhan. Aku berjalan menghampiri cahaya itu.
 Sebelum aku mencapai cahaya itu, dari kejauhan kulihat bayangan Andre yang menatapku sambil tersenyum. Lalu ia melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang.
 Aku memasuki cahaya itu. Dan tiba-tiba yang kulihat adalah langit-langit kamarku. Aku telah terbangun dari tidurku.
 Dengan cepat aku beranjak dari ranjang, melihat kalender yang menempel di dinding kamarku, kemudian masuk ke kamar mandi.
 Hari ini tepat tigabelas tahun meninggalnya Andre. Rupanya ingatanku tentang Andre telah kembali seutuhnya. Syukurlah. Aku merasa lebih baik sekarang.
Dengan cepat aku mandi dan berganti pakaian. Kemudian aku mengambil sebuah bola kecil dari atas lemari, dan langsung keluar kamar menuju lantai bawah.

 ”Mau kemana kamu, Di? Tumben pagi-pagi udah rapi,” tanya Mama yang memergoki aku sedang menyomot sebuah pisang goreng yang ada di atas meja makan.
 ”Pergi.” Aku menjawab sekenanya.
 ”Mama tau kamu mau pergi. Tapi mau pergi kemana?” Mama heran melihat kelakuanku yang tak seperti biasanya.
 ”Mau ke makam kakek.”
 ”Oh. Tapi buat apa kamu bawa bola kecil itu?” Mama masih heran melihat bola yang aku pegang dari tadi.
 ”Oh, ini? Nanti abis dari makam kakek, Andi mau ke makam Andre. Mau ngasih bola ini buat dia.”
 Mama terkejut mendengar kata-kataku. Ia terdiam sejenak, tak mampu berkata-kata. Namun beberapa saat kemudian Mama membuka suara. “Kamu sudah ingat tentang Andre?” Nada kawatir tersirat dari pertanyaannya.
 ”Udah kok, Ma.” Aku tersenyum kepada Mama.
 ”Dari siapa kamu tau?”
 ”Dari kakek.”
 ”Kakek?” Mama semakin terlihat kawatir.
 ”Ah, Mama terlalu banyak tanya nih. Udah, Ma, jangan kawatir. Andi baik-bak aja kok.”
 Mama menarik nafas panjang. “Ya sudah kalau begitu. Mama percaya anak Mama sudah besar. Kamu lakukan aja yang menurut kamu baik.” Mama tersenyum kepadaku.
 ”Ya udah, Andi pergi ya, Ma!” Aku bergegas menuju pintu keluar. Namun seketika aku balik lagi dan menghampiri Mama. “Lupa cium tangan. Hehehehe.”
 ”Dasar anak bandel!” Mama menyodorkan tangannya untuk aku cium.
 ”Anak bandel Mama pergi dulu ya!”
 Mama menjawab dengan senyuman.
***

 Kini aku duduk di samping nisan Andre. Setelah tadi selesai membacakan yasin untuk kakek, aku bergegas menuju makam Andre. Sudah ada setangkai bunga chrisan disana, bunga kesukaan Andre. Aku tersenyum melihatnya. Andre memang aneh, anak laki-laki tapi suka sekali dengan bunga, terutama bunga chrisan.
 ”Maafkan aku, Dre. Sudah terlalu lama aku melupakan kamu. Kamu pasti sedih. Tapi aku harap kamu mengerti. Tapi kalo kamu nggak terima, salahin kakekku aja sana. Kamu kan dekat di sana.” Aku masih saja berkelakar seperti dulu kala. Kamu pasti tertawa kan, Dre!
 ”Aku nggak bawain kamu apa-apa, tapi aku bawain kamu ini nih!” Aku menaruh bola kecil yang aku bawa ke atas nisannya. “Ini bola kita. Bola yang selalu kita mainkan bersama. Bukannya aku tidak mau menyimpan bola ini, tapi kamu pasti lebih membutuhkannya di sana.” Aku tersenyum sejenak.
 ”Jangan takut, aku masih inget janji kita kok. Dan aku pasti mewujudkan mimpi kita. Nanti kamu nonton aku ya dari atas sana!”

 Setelah aku selesai mendoakannya, aku bangkit berdiri. Aku berjalan beberapa langkah meninggalkan nisan Andre, kemudian menolehkan kepalaku kembali ke arah nisan.
 ”Main basket itu menyenangkan ya, Dre?”
Dan saat itu aku seakan-akan mendengar Andre menjawab ‘iya’ dari atas sana.

***

 

Cerpen: Titik Putih Kamis, 17 Maret 2005

Diarsipkan di bawah: Cerpen — pangerankucing @ 7:37 am

D day minus 2 from The Big Game.
Aku menatap bidang persegi panjang beberapa meter di depanku sementara titik putih di bawah kakiku sudah agak memudar warnanya seiring waktu yang berjalan dan kaki-kaki kotor yang melintasi tubuhnya.

Jelas sekali kalimat sok bermakna di atas menggambarkan sebuah titik penalty pada sebuah lapangan sepak bola (ok ok mungkin gak sejelas itu gambarannya pada kalimat diatas) soalnya gak mungkin ada kayak begitu di kantor kelurahan misalnya kecuali Pak Lurahnya lagi iseng bikin lapangan bola di kantornya. Asli, gak ada kerjaan banget tuh Pak Lurah menghamburkan uang rakyat jelata (ehm… sok idealis nih). Tapi mungkin juga Pak Lurah membangun kantornya di atas lapangan bola yang baru digusur (make sense). Ah sudahlah, gak ada penting-pentingnya ngebahas Pak Lurah, lupain ajah.

Aku disini masih melakukan latihan terakhir sebelum the big game yang dua hari lagi akan aku ikuti di Jakarta. Sebuah pertandingan penentuan (baca: final) antara kesebelasanku melawan Persija-Ateng (Perserikatan Sepakbola Jakarta Agak Tenggara… btw dimana tuh ??) untuk memperebutkan gelar jawara (baca: juara, bukan jagoan atawa centeng musuh Si Pitung jaman Belande dulu) pada Bank Jos Liga Indonesia yang disponsori oleh Bank Jos (bukan Bang Yos a.k.a Bang Sutiyoso tapi Bank Jos sebuah bank milik Bang Joshua seorang mantan artis cilik yang sekarang menjadi konglomerat).

Tidak terasa (ralat… agak terasa sih) sudah 1 tahun aku berada di sini sebagai pemain bola professional (baca: digaji yang hanya cukup untuk makan sama ngontrak rumah tipe 45, lumayan lebih bagus dari RSS ? Rumah Sangat Seadanya). Aku menjadi seorang striker kesebelasan Persekasle (Perserikatan Sepakbola Kabupaten Sleman), sebuah klub sepakbola di kota kelahiranku, Kabupaten Sleman. Yang belum tau Sleman ada dimana, pernah ke Yogya naek pesawat? Nah Bandara Adisucipto ada di Sleman, bukan di Yogya.

Pertandingan kali ini terasa sangat berat untukku karena selain partai 2 hari lagi merupakan partai puncak namun lebih lagi karena lawannya adalah Persija-Ateng yang setahun lalu merupakan klub tempat aku bermain. Ya, setahun lalu sebelum aku memutuskan untuk kembali ke kota asalku.

Aku kembali melihat titik putih itu, namun kali ini tergeletak seonggok bola (pemilihan pronoun yang salah pada kata ’seonggok’, pronoun ’sebutir’ tampaknya semakin salah. Jangan ditiru karena berdampak buruk pada nilai raport Bahasa Indonesia anda!). Mundur tiga langkah, ancang-ancang, selangkah, dua langkah, tendang, dan… GOL.

Mudah. Tandangan yang sangat mudah (survey yang tidak ketahui sumbernya mengatakan bahwa kemungkinan gol pada sebuah tendangan penalty adalah 85%, so the 15% is bad luck). Selama setahun ini aku selalu melakukan latihan tendangan penalty setelah latihan rutin sore aku lakukan bersama teman-teman klub yang lain. Sayangnya latihan tendangan penalty ini belum pernah terlihat manfaatnya pada pertandingan liga sebab aku tidak pernah mengeksekusi tendangan penalty selama setahun terakhir ini, tidak setelah kejadian itu, kejadian yang menyebabkan aku kembali ke kota kelahiranku dan bergabung dalam Persekasle.

Flashback / D day minus 1 year and 2 days from The Big Game
Hujan menghiasi Gelora Bung Karno (kata ‘menghiasi’ hanya kiasan, jadi jangan menghias kamar anda dengan hujan sebab berdampak buruk bagi kesehatan!). Sepertinya partai final Bank Jos Liga Indonesia tahun ini antara Pesija-Ateng sang juara bertahan melawan Perseatagam (Perserikatan Sepakbola Aceh Tanpa GAM) akan dilangsungkan dengan hiasan hujan (sekali lagi, hujan bukan hiasan kamar! Catet!).

Aku baru saja selesai bersiap-siap di ruang ganti pemain. Menguncir rambut panjangku dengan karet pink kebanggaanku (pink? bangga? Ok I’m a weirdo) lalu berkaca untuk melihat apakah aku sudah tampak ganteng.
“Udah siap Joe?” aku dikejutkan oleh pertanyaan Santos teman se-klubku.
“Elu Tos? Gue kirain siapa. Ngagetin aja lo. Gak liat apa gue lagi konsen dandan?”
“Ah tampanglo Joe! Kayak seleb aja dandan segala. Kasian tuh cermin. Kalo bisa nangis, nangis deh dia setiap hari elo kecengin gak jelas gituh Gak akan jatuh cinta tuh cermin ma elo. Percuma!”
“Rese lo Tos! Jangan samain gue ma lo lah. Lo sih mau diapain tetep aja item bluek gitu. Retak kali cermin kalo lo dandan.”
“Sembarangan lo Joe. Gini-gini banyak yang nge-fans ma gue.”
“Iye bener tapi dari kampunglo semua tuh. Papua.”
“Sompret! Udah ah, gak menang gue debat ma elo.”
“Ih siapa yang debat. Kenyataan lagi!”
“Udeh. Udeh. Tuh kita dah dipanggil Si Mister. Mo briefing.”
“Iye. Bawel! Yuk ah!”

Sejenak aku melirik cermin untuk melihat pungungku sambil ngeloyor keluar untuk briefing. Terlihat tulisan besar berwarna hitam. Nomor 10 terpampang dengan namaku tertulis di atasnya “Soedjono“.

Di ruang briefing semua pemain sudah siap mendengarkan wejangan dan pepatah (ralat, maksudnya sepatah dua patah kata) dari Mister Korchev pelatih kami asal Slovakia yang sudah 3 tahun terakhir ini melatih kami dan mengantarkan kami menjadi juara liga selama 2 tahun berturut-turut.
Mister Korchev mulai memberikan kata sambutannya untuk menyemangati kami.
Here we are waiting for the 3rd title in a row.
There’s nothing to fear of.
You are a champion.
And you will always be.
So, act like a champion and beat those loosers out there
!”
Yeahh,” seluruh pemain berteriak manjawab kobaran semangat dari Mister.
Seluruh pemain keluar menuju lapangan dan aku-pun sudah hampir keluar sebelum Mister memanggilku.
“Joe!”
Yes Mister,” aku menghentikan langkahku lalu berbalik ke arahnya.
You are my best player. My proud. Don¡¯t let me down. One thing I want from you.”
“…”
Make a score!”
You can count on me, Mister.
I believe you.

Suara bergemuruh menggema si seluruh angkasa Gelora Bung Karno (cieh bahasanya… ) ketika aku keluar dari ruang ganti dan hampir seluruh penonton meng-eluk-elukan sebuah nama. “We want Joe. We want Joe. We want Joe.”
Saat aku sampai di dalam lapangan seluruh penonton berdiri dan bersorak sambil bertepuk tangan. Sebagian teenager yang tentunya wanita mulai berteriak dan screaming menanggil namaku. “Joe! Joe! I love You! Aaaaaaaaaa!” (kata yang terakhir dilagukan, ehm salah, bukan dilagukan tapi yang jelas kata terakhir tidak layak untuk didengarkan dalam jarak 1 meter dari telinga anda. Women, don’t try this at home!)

Aku tenar dengan nama Joe. It’s ok, aku tidak keberatan sama sekali mengingat Soedjono nama asliku tidak bisa dibilang cool sama sekali. Dengan kulit putih, tinggi 180 cm, body atletis dengan six pack mengukir perutku (kiasan¡¦ kiasan¡¦ gak mungkin perutku diukir kayak ukiran Jepara), rambut hitam legam (bayangkan iklan Sunsilk), dan yang pasti puluhan gol yang aku koleksi dan menjadi prestasi yang sulit disaingi menjadikan aku sangat populer di mata semua pecinta sepakbola terutama wanita. Aku layaknya David Backham-nya Indonesia yang dicintai oleh penggemarnya seperti selebritis. Iklan sabun (bukan! Bukan iklan sabun yang itu!), shampoo, parfum, cukur jenggot, deodorant, minuman penambah tenaga, bahkan iklan celana dalam yang aku perankan semakin membuatku terkenal. Walaupun gossip-gossip mulai menerjangku dari mulai kedekatanku dengan seorang penyanyi yang kebetulan janda sampai gossip mengenai kehebatan kakiku yang disebabkan oleh susuk berlian di kakiku, itu semua tidak mengurangi ketenaran namaku bahkan aku terbantu dengan gossip-gossip itu yang membuat aku semakin terkenal dan sering masuk televisi.

Pertandingan dimulai. Disini, aku yang menyandang gelar kapten sekaligus striker kesebelasan Persija-Ateng mulai mengkomandoi (bukan istilah dalam militer) teman-temanku untuk menekan pertahanan Perseatagam dengan sistem total football yang menjadi ciri khas Persija-Ateng. Menit-menit pertama berjalan alot. Perseatagam yang menggunakan sistem all defence dengan pola 7-2-1 (maen bola ato buat benteng mas?) sangat sulit untuk ditembus pertahanannya. Namun kami tetap melakukan gempuran-gempuran berbahaya yang mengancam Teuku Johar, kiper sekaligus kapten dari Perseatagam sampai hampir babak pertama selesai.

Sambus, sang komentator khusus partai final terus berkoar dengan semangat 45.
“Ponirin terpidana, eh maaf maksud saya Ponirin melakukan umpan lambung.
Ketengah. Ada Sumardin disana.
Sumardin gocek kanan-kiri sambil menari balet.
Sumardin lolos dari kepungan Hamid dan Hamad dua kakak beradik. (who cares?)
Oper bola kepada Santos.
Santos mengedipkan mata ke arah pendukungnya yang asal Papua. (kok sempet ya?)
Pendukung Santos memberikan ciuman jauh.
Ah hampir saja bola terebut dari Santos oleh Basyir, untung saja Narno segera menoyor Santos yang sibuk bermain dadah-dadahan sama penggemarnya.
Santos berlari ke sayap dengan secepat kilat.
Lewat satu pemain sayap Perseatagam.
Lewat dua.
Santos dikawal sweeper. Bukan bodyguard.
Tapi badannya gede.
Santos melakukan umpan lambung ke tengah.
Bola berbelok seperti pisang.
Disana ada striker ganteng Joe.
Joe melompat.
Sebuah tendangan sepeda. (maksudnya bicycle shoot)
Dan
Goooooooooooool!!!
Sebuah gol yang indah dari striker ganteng Joe yang disambut oleh teriakan bergemuruh.
Saudara-saudara… gol ini merubah status quo menjadi 1-0 untuk Persija-Ateng.”

Babak pertama selesai, kedudukan masih 1-0 untuk Persija-Ateng. Kami kembali keluar untuk bermain di babak kedua setelah 15 menit waktu istirahat selesai. Seperti biasa, teriakan-teriakan ‘We want Joe’ berubah menjadi sorak-sorai ketika aku memasuki lapangan.

Masih seperti babak pertama, pertahanan all defense dari Perseatagam tetap sulit kami tembus. Dengan memakai kunci cataneccio, defense yang dipopulerkan oleh kesebelasan nasional Italia, mereka sepertinya menunggu serangan balik untuk membuat gol.

30 menit setelah babak kedua berlangsung, kejutan terjadi. Sebuah kesalahan oper pada pemain belakang Persija-Ateng di dekat gawang membuahkan sebuah tendangan pojok.
“Tendangan pojok dilakukan oleh Hamid.
Ambil ancang-ancang.
Melambung ke arah kanan gawang.
Hamad kakaknya Hamid menyambut bola dengan kepala.
Sundul saja.
Kiper Irvan Cahya salah langkah.
Dan
Gooooooooooool,” Sambus masih dengan semangat 45 mengomentari gol balasan yang diciptakan oleh Hamad, pemain tengah Perseatagam kakaknya Hamid. (aduh pake ikut-ikutan Sambus lagi, gak penting banget Hamad kakaknya siapa.)

Sebuah kesalahan fatal yang membuat kedudukan menjadi 1-1 membuat kami cukup panik dan lebih keras menggempur pertahanan Perseatagam. Gagal maning gagal maning. Memang pertahanan Perseatagam terlalu sulit untuk ditembus. Babak kedua sudah masuk ke waktu cedera (baca: injury time), dan sepertinya aku harus melakukan sebuah gebrakan untuk membuat sebuah gol dengan kemampuan drible-ku yang sulit untuk dihadang.
Sambus kembali berkomentar ketika aku mulai membawa sendiri bola ke dalam kotak penalty.
Striker ganteng Joe membawa bola.
Hamid menghadang.
Joe gocek kanan-kiri.
Masih belum lewat.
Striker ganteng Joe melihat ke atas.
Hamid ikutan.
Oh rupanya sebuah tipuan.
Striker Joe lepas dari hadangan.
Joe melesat masuk kotak penalty.
Berhadapan langsung dengan kiper Teuku Johar.
Hamid mengejar Joe dari belakang.
Sliding tackle.
Dan
Oooooooh striker ganteng Joe tergeletak di dalam kotak penalty.
Wasit Kulina dari Bandung meniup peluit dan menunjuk titik penalty.
Penalty rupanya Saudara-Saudara.”

Aku bangun dari tidurku (masih di lapangan bola, bukan di kamar tidur) kemudian mengambil bola, mengusap-usapnya untuk menghilangkan tanah yang menempel. Aku memegang bola yang basah (karena hujan, inget?) kemudian membawanya dan meletakkannya di titk putih.

This is it. I’m gonna make a score to win this game,” aku berkata dalam hati sementara Sambus mulai melakukan alasan kenapa dia dibayar (ya komentar bukan jualan pisang).
“Saudara-saudara kita lihat striker ganteng Joe sudang mengambil ancang-ancang.
Dia berlari kecil.
Siap menendang bola.
Kaki kiri Joe terpeleset
Namun kaki kanannya menyentuh bola
Bola bergulir pelan ke arah kiper.
Secepat kilat Teuku Johar menendang bola lambung langsung ke depan.
Bola melambung ke depan menuju kotak penalty Persija-Ateng.
Hamad mengejar bola.
Bola dikejar Hamad.
Sebuah tendangan volley geledek.
Dan
Gooooooooooooool.
Saudara-saudara¡¦.
Kedudukan berubah menjadi 2-1 untuk Perseatagam.
Dan bersamaan setelah itu wasit meniup peluit panjang.tanda pertandingan selesai.”
Aku terduduk, tak mampu untuk bergerak. Mataku melihat titik putih di depanku. Dunia seakan sepi, suara gemuruh tak terdengar. Aku masih terdiam, tak mampu bergerak, kepalaku terasa berat kemudian semuanya menjadi gelap.

Back to Present / D day of The Big Game
Aku menatap titik putih itu lagi. Titik putih yang sudah lama tidak aku hadapi selama satu tahun ini. Titik putih itu, yang membawa kenangan buruk satu tahun yang lalu, same day, same game, different year. Kenangan buruk kembali melintas. Teringat bagaimana aku menjadi pecundang setelah gagal mengeksekusi tendangan penalty karena sebuah stupid thing, kepeleset. Titik putih itu mengubah karirku, ketenaranku, jalan hidupku. Masih teringat cemooh semua orang yang semula begitu memujaku. Saat itu semua membenciku bahkan ‘Ball’ sebuah tabloid sepakbola nomor satu di Indonesia memampangkan dengan besar fotoku saat terpeleset pada halaman utamanya dengan judul besar tertulis “Stupid Player of The Year”.

Aku menaruh bola di titik putih itu kemudian melihat ke arah pendukungku dari Sleman. Mereka yang masih setia denganku, yang membuatku bisa bangkit kembali sampai bisa berada di sini lagi, di big game ini. Teringat bagaimana seluruh pendukung Persija-Ateng setahun yang lalu mencemooh aku, dan hal itu membuat management Persija-Ateng tidak memperpanjang kontrakku untuk bermain di klub mereka. Aku dibuang seperti sebuah puisi Chairil Anwar,

Aku binatang jalang
Dari kumpulan yang terbuang.

Setahun yang lalu aku kembali ke kampung halamanku. Untunglah Persekasle masih mau menerima aku sebagai pemain mereka. Kesempatan dan kepercayaan itu tidak aku sia-siakan. Disini aku, berhasil membawa kesebelasanku mencapai partai final dengan aku sebagai top scorer sementara liga ini. Dan saat ini aku menghadapi kesebelasan yang dulu sempat membuatku terkenal walau akhirnya membuat aku terbuang.

Aku menatap bola itu yang tergeletak diatas titik putih. Saat ini pertandingan yang sama ketat membawa kami ke adu penalty. Score sementara 5-5 sama imbang dan aku dipercaya melakukan eksekusi tendangan penalty yang terakhir. Apabila aku berhasil melakukannya Persekasle akan memenangkan the big game dan menjadi jawara baru.
Aku mengambil ancang-ancang.
Mengambil nafas panjang.
Berlari kecil.
Dan
..

Go to The Future / D day plus 2 years and 2 month after The Big Game
Bandara Soekarno Hatta Terminal Kedatangan Luar Negeri. Aku menoleh kanan-kiri mencari sesosok wanita, wanita cantik yang merupakan tunanganku. Hari ini aku pulang ke Indonesia setelah 2 tahun menuntut ilmu di Auckland University of New Zealand. Dengan bangga aku pulang kembali ke Indonesia, dengan membawa gelar Bachelor dengan majoring Nuclear Engineering. Tentu saja aku bangga pulang ke Indonesia sebab aku berhasil lulus dengan predikat cum laude dan dalam waktu hanya 2 tahun, lebih cepat 1 tahun dari seharusnya, selain itu aku langsung diterima menjadi asisten dosen di Auckland University, mengajar mata kuliah Nuklir Terapan.

Seminggu lagi adalah hari yang aku tunggu-tunggu, hari dimana aku akan mengucapkan ijab kabul di depan penghulu untuk menjadikan Ranti tunanganku untuk menjadi istriku. Rencananya setelah cuti 1 bulan aku akan kembali ke New Zealand bersama istriku untuk tinggal di Auckland dengan tentu sebelumnya menghabiskan bulan madu di Christchurch, sebuah kota indah di South Island New Zealand.
“Hey keledai jangkung!” aku mendengar suara seorang wanita yang aku hafal sebagai suara dari Ranti tunanganku.
“Halo kelinci kecilku!”
Aku mendatanginya, memeluknya, dan mengecup keningnya.
“Sorry. Lama ya nunggunya? Maklum deh, namanya juga Jakarta. Macet.”
“Gak papa sayang.”
“Capek ya?”
“Lumayan deh. 7 jam di pesawat dari Sydney ke Jakarta.”
“Lho, kok dari Sydney?”
“Transit.”
“Ooh.”
“¡¦”
“Mamah-Papah udah nunggu tuh di rumah. Kangen katanya.”
“Ya udah, kita cabs aja yuk!”
“Oke deh. Yuk keledai jangkungku.”
Dan aku menggandengnya sambil tersenyum.

Keledai jangkung. Nama kesayangan yang khusus Ranti berikan untukku. Aku cinta nama itu, mungkin karena Ranti yang membuatnya, tapi memang sebenarnya nama itu cocok untukku, sebab hanya keledai dungu yang pernah mengulangi kesalahan bodoh yang sama untuk kedua kalinya, kepeleset saat melakukan tendangan penalty di partai final yang menentukan.

Aku melangkah dengannya, Rantiku, pujaan hatiku, the reason I live for. Dia wanita yang telah menghibur dan membesarkan hatiku, mendukungku, dan menyarankan aku untuk meninggalkan dunia sepakbola dan menjalani kuliah di luar negeri, sebuah impian sempat terkubur sejak aku disilaukan oleh dunia ketenaran sebagai seorang pemain sepakbola merangkap selebritis. Namun dua kejadian memalukan itu membuatku berpikir bahwa sepakbola bukan duniaku dan saatnya untuk mengejar impian yang lain. Saran Rantilah yang mengantarkan aku menjadi sukses seperti ini, walaupun tidak tenar seperti selebritis, namun setidaknya sekarang orang memandangku dengan pandangan berbeda. Bukan pandangan seorang gadis kepada David Beckham pujaannya, namun pandangan kepada seorang pemuda terpelajar yang mempunyai kecerdasan luar biasa dengan prestasi yang membanggakan.
Sejujurnya aku masih teringat titik putih itu, namun semuanya sudah lewat. Aku tinggalkan semua kenangan buruk akan titik putih itu sebab aku yang kini telah berubah. Aku, seekor keledai dungu yang kepeleset untuk kedua kalinya saat melakukan tendangan penalty di partai penentuan, The Stupid Man of The Year, hari ini berubah menjadi Bachelor of Nuclear Engineering, asisten dosen Nuklir Terapan di Auckland University, The Brightest Man of The Year.

* * *

(Jakarta, 13 Maret 2005, pangerankucing a.k.a Krisna Aditya, menulis lagi karena Vanilla)

 

Cerpen: “Me and Your Vanilla Smile” Senin, 7 Maret 2005

Diarsipkan di bawah: Cerpen — pangerankucing @ 3:20 pm
Kamar Tidur, 29 Januari 2005 pk. 08.00
“Sial!” umpatku dalam hati. “Telat lagi deh nyampe kantor.” Jarum pendek jam bergambar monyet di dinding kamarku sudah menunjuk ke angka 8, sedangkan aku baru saja beranjak dari tempat tidurku.
Gara-gara nonton For Love or Money 2 sampai jam 2 tadi malam aku baru bangun jam segini. Habisnya tanggung banget kalo nggak nonton episode terakhir reality show yang sudah aku ikuti dari awal. Reality show asal Amerika yang mengetengahkan pencarian cinta seorang wanita yang disertai dengan pilihan antara cinta atau uang satu juta dollar. Pilihan yang sulit tapi aku jelas akan memilih satu juta dollar. We are talking about One Million Dollar!Kesempatan memperoleh satu juta dollar hanya terjadi satu kali seumur hidup, sedangkan cinta? Cinta bisa didapat dengan satu juta dollar. Gak percaya? Sini kasih aku satu juta dollar, aku cariin cinta buat satu erte sekalian.

Jalan Casablanca, 29 Januari 2005 pk. 09.15
“Kutil! Udah telat, macet lagih,” pikirku. “Kayaknya nyampe kantor jam 10 lagi nih. Tumben-tumbenan jam segini masih macet aja. Pasti ada kendaraan Tuhan yang mogok di tengah jalan.” Kendaraan Tuhan alias angkot. Gimana enggak, soalnya cuma Tuhan yang tau kapan tuh angkot mau belok kanan, kiri ato berhenti mendadak.

Aku masih terus menggerutu sambil mencoba menyalip kanan kiri mobil-mobil yang nyaris tak bergerak dengan Supra Fit-ku, motor kebanggaanku yang sebenarnya tidak terlalu patut dibanggakan (kalo mobil sih mungkin bisa dibanggain, tapi kalo motor? Udah cuman motor ¡¦ bebek lagi!)
“Mudah-mudahan gak telat-telat amat,” harapku. Walaupun monyet juga tau kalo jam 9.15 pasti sudah masuk kategori telat amat.

Wisma Mulia lantai 8, 29 Januari 2005, pk. 09.56
Celinguk kanan-kiri. Aku mencari sesosok bos yang biasanya ada di ruang kaca tembus pandang persis akuarium tidak jauh dari tempat dudukku. Kayaknya nggak ada.
“Mbak, bos udah dateng?” tanyaku pada Mbak Adis salah seorang rekan kerjaku.
“Belum tuh Nana,”jawabnya.

Nana. Nama yang diberikan temen-teman kantor terutama di department-ku. Sebenarnya namaku Krisna Adityawan, cowok tulen ¡¦ asli ¡¦ tapi teman-teman kantorku suka menyingkat namaku dan memanggilku dengan nama Nana. Awalnya sih aku protes tapi kayaknya tidak ada gunanya dan mereka terus saja memanggilku Nana, bahkan ada yang nambahin jadi Nana Ayem¡¦sialan¡¦masak nama orang bagus-bagus diganti jadi celana dalem! Ah biarlah mereka memanggilku sesukanya, mau Nana kek, Nini kek, Nunu kek, tapi kalo Nene ato No** sepertinya aku tidak akan se-rela itu deh.
Kembali aku membuka internet untuk melihat sebuah blog tepatnya live journal. Seperti pagi-pagi yang lain setelah aku menyalakan kompie-ku, ini sebuah rutinitas yang tidak pernah aku tinggalkan. http://www.livejournal.com/myvanillasmile, aku mengakses url itu. Ah, ternyata ada postingan baru. Satu lagi puisinya yang isinya kepesimisannya menghadapi kehidupan.

aku bukanlah manusia
tidak punya angan pun harapan
dunia hanya sekedar pijakan
untuk menunggu kematian

jkt, mimpi buruk 2005

Namanya Maya, dikenal di dunia maya (baca: virtual) sebagai Vanilla Smile. Ya, senyum manisnya di foto yang dulu sering dia pajang di live journal-nya memang benar-benar senyum yang sangat manis persis vanilla. Mungkin gula aja minder liat senyumnya. Itu aku akui dengan jujur dan sepertinya aku belum pernah melihat senyum semanis itu, baik itu pada artis Hollywood apalagi Bollywood. Jangan Tanya artis Indonesia ¡¦ males jawabnya.

Walaupun memang senyumnya semanis itu, bukan senyumnya yang aku kagumi melainkan tusan-tulisannya (ok ok ngaku deh ¡¦. pertama-tama memang senyumnya yang membuat aku tertarik). Ya ¡¦ tulisan-tulisannya yang bernuansa gelap penuh kepesimisan hidup tapi mampu ia tuliskan dengan indah ¡¦ ya indah sekali sampai seakan-akan kita masuk di dalamnya.
Pertemuan kami … ralat ¡¦ aku menemukan dia (baca: melihat pic-nya) saat masih kerajingan Friendster. Saat itu bulan Juli dan aku sedang mencari teman sebanyak-banyaknya untuk dijadikan friendlist walaupun dari seluruh friendlist mungkin hanya 80% yang benar-benar aku kenal, what a fake world. Dari profile-nya aku dapatkan url livejournal-nya. Aku kemudian mulai kerajingan membaca tulisan-tulisannya. Unik, tulisannya sangat unik, itu yang membuatku kecanduan. Ya¡¦ aku kecanduan tulisan vanillasmile sampai suatu saat aku mulai memberanikan diri berinteraksi dengannya..

So What ??
adiet

2004-07-01 22:23 (link)
Always wait for your journal. One of the best and interesting journal of life i ever read. I’ve got a lot of lesson from you and your journey. Be your self, keep it, so what ???
krisnaditya….just an ordinary
(Reply to this) (Thread)

Re: So What ??
myvanillasmile

2004-07-03 09:41 (link)
hey
thank you for reading it and i feel great when people appreciate my honesty… at least i try! nice to know u, Adiet?
(Reply to this) (Parent)

Oh ya , di dunia maya (baca : virtual) aku mempunya banyak nama. Untuk live journal aku memakai nama Adiet sedangkan untuk Yahoo! Messanger dan blogspot aku memakai nama pangerankucing.

Nice
adiet

2004-07-04 23:19 (link)
Nice Hair style … orang yang nulis livejournal spt ini emang harus punya tampang kayak elo … pujian ?? celaan ?? nope.. just be honest

Aku mulai memberanikan diri untuk mengomentari rambutnya yang baru. Sepertinya dia cukup nascist, suka sekali memajang fotonya yang dengan senyumnya yang manis itu sama seperti aku. Bukan senyumnya ¡¦ narcist-nya. Oh God ¡¦ I love to see that smile.

What? myvanillasmile give me a comment?” aku terkejut mendapatkan Maya memberikan comment di live journal-ku beberapa hari kemudian. Dengan agak deg-deg-an aku mulai membaca tulisannya comment-nya untukku. “Damn! I¡¯m like a 17 years old boy who get a love letter from a girl who have a vanilla smile.

saya?
myvanillasmile

2004-07-05 06:47 (link)
orang yg menulis Jurnal spt “itu” memang harusnya bertampang spt saya… uhmmm… spt saya bagaimana maksudnya? :P
(Reply to this) (Thread)

Memang tulisannya tidak seperti harapanku. Memang bodoh sekali aku yang mengharapkan dia menulis seperti aku harapkan (baca: mimpikan), tapi itulah pertama kalinya aku melakukan a long chat dengannya. Pada dasarnya dia pandai berbicara (setidaknya kalau tulisannya di-audio visual-kan dalam pikiranku). Dan saat itu kami berdua berbicara melalui sebuah live journal, ehm cara yang cukup aneh untuk ngobrol sebenarnya.

Re: saya?
adiet

2004-07-11 20:16 (link)
hahaha ternyata dipikirin juga kata2 gw. You’ve such a unique personality, dan biasanya tampang org yang ky gt pasti unik bgt. lo suka rambut pendek (tdk spt ce “biasanya”), tampang cool dengan kesan pemikir, tapi punya senyum yang manis banget …. kontras tapi emang cocok ajah ….
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: saya?
myvanillasmile

2004-07-11 20:45 (link)
yea… probably you should just realize that i have 7 personalities. but whichever you saw, i am sure you’ll love her hehehehehe…
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: saya?
adiet

2004-07-11 21:01 (link)
Ow yea ??? maybe …. But I confess that i really love your smile …and you really have a vanilla smile.
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: saya?
myvanillasmile

2004-07-11 21:09 (link)
vanilla is cold, dear Adiet :P
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: saya?
adiet

2004-07-11 21:30 (link)
vanilla is not always as an ice cream …. dear …. hey….. i don’t know your name … how come?????
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: saya?
myvanillasmile

2004-07-11 21:38 (link)
i just notice that you’re on my friendster friendslist also, eh? how come you didn’t know my name? uhmmm… vanillasmile is the famous name of mine, my real name? what would you call the internet world in indonesia? :P
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: saya?
adiet

2004-07-11 21:47 (link)
Maya ???? huahuahuhauhauhuhauha girl like you named maya ??? Tapi dpikir2 elo emang maya banget ….hehe. I like to read your journals better than your testimonials.
(Reply to this) (Parent) (Thread)

maya?!
myvanillasmile

2004-07-11 21:51 (link)
yup! MAYA is the name… MAYANG is the complete name… but you’re right! MAYA suits me better, because people probably just know me from the internet only. in reality? who knows…? hehehehe…
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: maya?!
adiet

2004-07-11 22:05 (link)
hahaha yes … i’ll laugh a lot when you introduce yourself as mayang. Btw, you have great talent in writing. I always wait for your poetry. But i always wondering, is your poetry always came from reality.. because sometimes it’s despert, sometimes so lovely, but sometimes so naughty….
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: maya?!
myvanillasmile

2004-07-11 22:17 (link)
some are from reality… some are from others experiences, some from my own experiences, some from my imagination only hehehehehe… once again, i’ve 7 personalities remember? so i got the inspiration from everywhere! sometimes when i wake up in the morning, i found 1 or 2 poems already writen in my Pagina kosong… n i can’t remember when i wrote them! weird eh?
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: Poems ?
adiet

2004-07-11 22:33 (link)
long time ago when i was in high school, i used to make poems for a little money or a pack of cigaret. But i never do that again and i lost my sense of poems. In my head there’s only work-work and work. Your journals remind me of the old times and i thank you for that. But it’s hard to make poems anymore. hahaha i lost it. btw, you work as an assistant of legislative?? Is it nice or just a boring work ??
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Re: Poems ?
myvanillasmile

2004-07-11 22:51 (link)
poems… good to know that my journal become somebody’s inspiration :P
about my work, if you read my journal you know how bored it is hehehhee..
(Reply to this) (Parent) (Thread)

Sebuah Flashback / Parc, 24 Agustus 2004 pk.23.30
Aku membaca tema Parc malam ini. Monday Mayhem :TRIBUTE TO MORRISSEY n THE SMITH. Jujur saja, aku tidak tau lagu-lagu Morrissey apalagi The Smith, bukan karena mereka cukup terkenal hampir 5 atau 6 tahun lalu, tapi memang lagu-lagu seperti itu bukan bidangku sebab pada masa-masa itu aku sedang bermanja-manja dengan Fourplay, Earl Klugh, Earth Wind and Fire dan grup-grup Jazz lainnya.

“Waw, nggak nyangka Parc sepenuh ini. Ternyata banyak juga yang suka sama Morrissey sama The Smith,” aku berkata dalam hari sambil mencari-cari tempat untuk berdiri. Dapat. Sebuah pojokan yang cukup bagus karena dari sana aku bisa melihat penggung dan melihat ¡¦ dia ¡¦ Maya sang Vanilla Smile dibalut biru-biru ¡¦ jeans biru muda, kaos berkerah garis-garis biru putih, dan jaket jeans lagi-lagi biru.
Malam ini aku sengaja datang ke Parc sebab aku tau bahwa dia pasti ada di sini. Ya, Maya tidak akan melewatkan Monday Mayhem @ Parc apalagi dengan tema yang khusus seperti malam ini. Aku berpikir bahwa mungkin malam ini aku bisa melihatnya secara nyata (baca: not virtual) dan mungkin berkenalan dan dekat dengannya. What a dream!
Yooo! Mas tequila single ya!” aku sepertinya membutuhkan minum keras sedikit untuk mengurangi deg-deg-an-ku setidaknya agar aku bisa menikmati sedikit lagu-lagu yang diputar oleh sang DJ yang jelas-jelas tidak dapat aku nikmati sama sekali.
Dia masih berdiri di sana bersama teman-temannya yang sedang ber-gila ria sambil minum beberapa shot minuman yang aku tak tau namanya. Aneh, kadang dia begitu gembira tertawa-tawa bersama teman-temannya tapi beberapa saat dia terdiam seakan termenung memikirkan sesuatu. Mungkin perkataannya waktu itu benar, dia punya 7 kepribadian. Tapi kalau itu benar, aku tidak tau sudah berapa kepribadian yang sudah aku temukan pada dirinya sampai saat ini.
Beberapa menit kemudian aku kembali mencoba mengamatinya, namun ternyata aku tak dapat menemui sosoknya, dia menghilang. Aku menolehkan kepalaku mencari-cari sesosok dia. “Ah mungkin lagi ke toilet,” pikirku. Untuk menghabiskan waktu sebelum aku menghampirinya aku minum lagi tequila double-ku. Semenjak tequila single sudah kuhabiskan, aku mulai memesan tequila double. “Biar lebih lama abisnya,” pikiran bodoh yang aku sesali karena tequila harus diteguk dalam sekali shot.
Oh shit! Kayaknya mau jackpot nih. Goblok banget gue! Saat-saat penting kayak gini malah mabok ¡¦ mau jackpot lagi,” aku merasakan kepalaku mulai pening dan yang lebih parahnya lagi perutku mulai merasa mual. Penyakitku yang satu ini sering menggangguku saat mau bersenang-senang dengan teman-teman sambil minum minuman keras. Aku tidak mudah mabok, tapi aku tidak kuat dengan alkohol. Alkohol selalu membuatku mual, dan tau sendiri lah, ujungnya pasti jackpot.
Aku secapatnya berlari menuju toilet. Untungnya aku sudah tau dimana toiletnya berada. Aku memang selalu melakukan observasi dulu dimana letak toilet apabila aku datang ke tempat makan atau cafe dan diskotik. Itu supaya aku tau harus berlari kemana pada saat ada emergency seperti kebelet pipis atau mau jackpot seperti ini.
Pintu toilet pria sudah keliatan, sebelahnya ada toilet wanita. Aku hampir sudah tidak tahan untuk mengeluarkan isi perut ini. Aku terus melihat ke bawah, mengamati jalannya kakiku supaya benar dan tidak oleng kanan-kiri.
Shit!” aku terhentak ketika ada orang yang menghalangi jalanku. Aku tak tahan lagi untuk menahan rasa mualku dan seketika itu “Hoek¡¦.,” aku mengeluarkan isi perutku ¡¦ tepat ¡¦ di atas kaki orang yang menghalangi jalanku. Sepatu hitam, celana jeans biru muda, lalu aku mulai perlahan-lahan melihat ke atas.
Ohh My GOD!”

Back To The Future / Wisma Mulia lantai 8, 29 Januari 2005, pk. 10.15
Puas melihat Vanillasmile¡¯s Live Journal, aku login ke Friendster. Email : krisna_adityawan@telkomsel.co.id, password ******. Klik Log In.

“Ah, nggak ada message atau testimonial baru,” aku bergumam sambil kemudian meng-klik Friends. Kucari namanya ¡¦ -Vanilla Smile- ¡¦ kemudian aku meng-klik namanya. Pic-nya dengan senyum vanilla nya masih ada di kiri halaman yang aku buka. You are still as cute as I can remember and so does your vanilla smile. Di bawah pic-nya ada judul dari pic tersebut ¡¦ unpredictable. It¡¯s so you!
Semenjak kejadian di Parc bulan Agustus tahun lalu aku tak akan pernah bermimpi lagi, bermimpi Maya-ku menjadi nyata. Semenjak aku jackpot dengan sukses di sepatu hitamnya. Sepatu hitam dan celana jeans biru muda yang membalut tubuh seorang Vanilla Smile. Aku tidak akan pernah melupakan betapa dia tercengang sambil menahan marah dan kemudian mulai menghujani dengan sumpah serapahnya. Aku memakluminya, aku pun akan mengatakan sumpah serapah itu jika sepatuku yang dikotori oleh isi perutmu. Akhirnya aku hanya bisa berlari sambil sempoyongan karena mabok sebelum ada security dengan badan besar kulit hitam berotot bisep sebesar pahaku menyeretku keluar dari Parc. Untunglah aku sudah berhasil keluar sebelum security itu berhasil mengejarku.
Add Testimonial. Klik. Semenit kemudian aku telah selesai menuliskan sebuah puisi. Bukan puisi pertama yang kubuat khusus untuknya. “Puisi ini hanya untukmu ¡¦ Maya-ku yang tak akan pernah menjadi nyata.”

namanya maya

seperti namanya … dia maya
tak terlihat
tak terjamah
tak tertatap
tak terengkuh
apalagi terpeluk
hanya namanya yang terbaca
hanya fotonya yang tertatap
hanya senyumnya yang terekam
hanya tulisannya yang terngiang
namanya maya
seperti namanya … dia maya
* * *
(Jakarta, 7 Maret 2005, Krisna Aditya a.k.a pangerankucing menulis lagi karena Vanilla)