Dan saat ku tahu kau akan datang
semua ragu pun hilang tiada berbekas
seakan semua tanya menjadi jawab
Sebab yang kunanti
dirimu
akan datang padaku
Dan aku siap tersenyum
menunggumu hingga lahirmu
Dan saat ku tahu kau akan datang
semua ragu pun hilang tiada berbekas
seakan semua tanya menjadi jawab
Sebab yang kunanti
dirimu
akan datang padaku
Dan aku siap tersenyum
menunggumu hingga lahirmu
Mataku berdarah, kau tersenyum
Hidungku berdarah, kau tersenyum
Kupingku berdarah, kau tersenyum
Mulutku berdarah, kau tersenyum
Dadaku berdarah, kau tersenyum
Punggungku berdarah, kau tersenyum
Perutku berdarah, kau tersenyum
Lenganku berdarah, kau tersenyum
Telapak tanganku berdarah, kau tersenyum
Kakiku berdarah, kau tersenyum
Telapak kakiku berdarah, kau tersenyum
Aku mati, kau tertawa
Matamu berdarah, aku menangis
Hidungmu berdarah, aku menangis
Kupingmu berdarah, aku menangis
Mulutmu berdarah, aku menangis
Dadamu berdarah, aku menangis
Punggungmu berdarah, aku menangis
Perutmu berdarah, aku menangis
Lenganmu berdarah, aku menangis
Telapak tanganmu berdarah, aku menangis
Kakamu berdarah, aku menangis
Telapak kakimu berdarah, aku menangis
Kau mati, aku menjemput
Kau katakan, “I love you!”
Aku terdiam. Kau terdiam.
Dua pikiran mengembara.
Otakku mencerna satu kalimat suci itu.
Aneh!
Aneh!
Getaran itu hilang. Mungkin kata-kata itu sudah begitu kosongnya untukmu sehingga saat kau ucapkan, ia tak lagi berisi.
Tidak menggetarkan hati seperti dulu.
Ku sadar, akupun begitu.
Mungkin hanya ritual murni saat kita berdua,
saat bibir berpagut,
saat jemari berpesta,
saat tubuh menyatu,
saat lenguhan berbalas.
Ah… hilang… maknanya hilang.
Bagiku,
juga bagimu.
Hanya ritual kata saat semua berlalu, saat kita kembali mengenakan baju.
“I love you too!” Sama kosongnya di hatiku.
Dan kita berpisah, seperti tak ada yang terjadi.
Saat ku sadar
kau telah hilang
Kucari dari mata
kau tak ada
Kucari di hati
kau tlah sirna
Namun beda dengan sebelumnya
Kali ini aku tak hampa
Namun beda dengan sebelumnya
Kali ini aku tak perduli